Ujaran Abu Janda; Menuai Pro Kontra yang Berbuntut Panjang

Beberapa waktu lalu, seorang penggiat media sosial Permadi Arya atau yang lebih dikenal dengan nama Abu Janda menjadi sorotan publik. Namanya menempati jajaran trending topik di Twitter karena bahasa komentarnya cukup mencolok dan dianggap rasis. Cuitan Abu Janda tersebut membawa buntut panjang permasalahan dan menimbulkan diskusi di antara warganet. Pro dan kontra terhadap Abu Janda menghiasi pembahasan warganet mengenai isu tersebut. Seperti apa awal mula cuitan tersebut sehingga menyulut diskusi publik? Dan bagaimana gambaran kubu pro dan kontra yang terbentuk dari isu tersebut?

Bermula dari Abu Janda mengomentari salah satu cuitan dari Tengku Zulkarnain yang secara garis besar berisi keresahannya yang meyangkut agama Islam. Pada cuitan tersebut @ustadtengkuzul menyinggung kaum minoritas yang arogan hingga adanya kejadian penghinaan terhadap Ulama Islam di Indonesia. Cuitan Tengku Zul mendapat interaksi dari warganet termasuk Permadi Arya atau Abu Janda. Melalui cuitannya, @permadiaktivis1 berpendapat bahwa Islam sebagai agama pendatang di Indonesia dapat dikatakan arogan, sebab menurutnya Islam telah menggeser kearifan lokal. Cuitan yang menyebutkan ‘Islam arogan’ tersebut yang membawa nama Abu Janda menjadi perbincangan hingga mengalami buntut panjang permasalahan. 

Berdasarkan isu tersebut, Media Monitoring Netray melakukan pemantauan seputar antusias warganet yang memperbincangkan Abu Janda selama 29 Januari-4 Februari 2021. 

Hasilnya, selama satu minggu pemantauan topik Abu Janda mendapat impresi warganet sebanyak 49,886 cuitan. Pergerakan grafik didominasi cuitan bersentimen negatif dengan puncak intensitas pada 1 Februari 2021. Perbedaan jumlah antara cuitan positif dan negatif sangat jauh sehingga kurva yang terbentuk ialah garis sentimen negatif mengungguli garis sentimen positif. Seperti Apa warganet menanggapi cuitan Abu Janda hingga menumpu cuitan bersentimen negatif? 

Secara garis besar, pada puncak grafik tanggal 1 Februari, terlihat beberapa warganet yang kontra menginginkan Abu Janda diproses secara hukum. Sebagian warganet mempertanyakan kembali terkait kabar pemeriksaan Abu Janda oleh penegak hukum, sebab tidak tersebar bukti autentiknya. Seperti argumen dari @RestyCayaaah yang menyebutkan Abu Janda seorang buzzer pro Pemerintah sehingga pihak polisi merahasiakan pemeriksaannya. Selain itu pada puncak grafik juga memperlihatkan suara warganet yang mendukung Abu Janda. Bagaimana gambaran kubu pro kontra yang terbentuk dari cuitan warganet bersentimen negatif dan positif? 

#SavePermadiArya Menggema pada Kubu Pro Abu Janda

Dukungan warganet untuk Abu Janda terhimpun dalam beberapa cuitan dengan mayoritas bersentimen positif berikut ini. Warganet menuliskan dukungannya di Twitter dengan menggaungkan tanda pagar berupa #SavePermadiArya dan #KamiBersamaPermadiArya.

Cuitan ajakan warganet untuk mendukung Abu Janda ialah dengan melambungkan tanda pagar. Sebab menurut beberapa cuitan di atas, Abu Janda telah memperjuangkan kaum minoritas NKRI. Hanya saja dalam penyampaian tulisannya Abu Janda sedikit keseleo lidah dan jempol sehingga penataan bahasanya menimbulkan multitafsir. Dukungan lain datang dari aktivis 98 yang telah menyiapkan 1000 pengacara untuk membela Abu Janda. 

Sumbangan Sentimen Negatif untuk Kubu Kontra Abu Janda

Seperti dilihat pada gambaran hasil statistik di atas grafik sentimen negatif lebih banyak daripada positif. Hal itu karena cuitan warganet yang kontra dengan argumen Abu Janda mendominasi.

Perbincangan warganet yang kontra dengan Abu Janda melambungkan tanda pagar di Twitter berupa #TangkapAbuJanda. Warganet merasa bahwa argumen Abu Janda sangat rasis dan dapat memancing provokasi. Dugaan Abu Janda sebagai seorang buzzer Pemerintah semakin diperkuat dengan tidak adanya himbauan dari Pemerintah untuk segera mengusut kasus tersebut. 

Menilik Top Organisasi dan Top Komplain

Berikut adalah jajaran Top Organizations dan Top Complaints yang termuat dalam fitur Netray.

Gambar di atas merupakan contoh cuitan warganet yang menyeret organisasi Nahdlatul Ulama dalam isu Abu Janda. Hal itu karena Abu Janda menyebut dirinya sebagai bagian dari NU. Lantas pada cuitan organisasi NU, terlihat cuitan dari Abu Janda yang menyampaikan klarifikasinya pada jajaran Kiai dan Ulama NU, bahwa cuitan tersebut hanya ditujukan pada Ustaz Tengku Zulkarnain dan tidak bermaksud menghina Islam. Berikut kumpulan keluhan warganet yang terangkum dalam Top Komplain. 

Kata goblok, susah, dan kecewa terlihat banyak muncul pada kumpulan top komplain. Mayoritas cuitan warganet yang terangkum merupakan cuitan yang kontra terhadap Abu Janda. Seperti cuitan dengan kata komplain kecewa yang berisi argumen kekecewaan warganet atas lambatnya sistem Pemerintah dan Kepolisian dalam merespons kasus Abu Janda. 

Jaringan Percakapan antara Kubu Pro dan Kontra Warganet

Gambar jaringan percakapan di atas memperlihatkan bahwa garis berwarna merah menyelimuti akun @jokowi @DivHumas_Polri dan @dppknpiofficial. Ketiga akun tersebut banyak ditandai warganet yang menyerukan untuk segera memproses hukum dan menangkap Abu Janda. Kemudian garis tipis-tipis berwarna putih dan hijau yang berada disekitar akun @permadiaktivis1 dan @Dennysiregar7 merupakan jaringan yang mendukung Abu Janda tidak bersalah.

Buntut komentar dari Abu Janda yang menyangkut agama, membawanya berada dalam masalah. Sensitivitas pernyataan yang disebutkan Abu Janda tentang Islam Arogan mendapat kecaman dari kalangan masyarakat. Warganet melambungkan tanda pagar #TangkapAbuJandaRasis sebagai bentuk ungkapan ketersinggungan atas ujarannya yang multitafsir. Namun disisi lain, warganet juga menilai bahwa Abu Janda tidak bermaksud menghina agama, hanya saja kalimat yang digunakannya tidak sesuai sehingga dinilai rasis. Sekian analisis Netray.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: