Polemik Stafsus ‘Milenial’ Jokowi hingga Tantangan Debat Terbuka

Dalam kurun waktu seminggu terakhir ini dari 15-21 April 2020, staf khusus (stafsus) milenial Presiden Joko Widodo sedang hangat diperbincangkan di portal media berita daring dan media sosial Twitter, khususnya tindakan dua Stafsus Jokowi yaitu Andi Taufan Garuda Putra yang menggunakan surat berkop Sekretariat Kabinet yang ditujukan kepada para camat terkait permintaan dukungan kepada perusahaan PT Amartha Mikro Fintek yang dipimpinnya, serta  proyek kerjasama dalam program Kartu Prakerja yang melibatkan Ruangguru, perusahaan milik Staf Khusus Presiden Joko Widodo, Belva Devara.

Polemik inipun memicu reaksi dari berbagai kalangan, baik politisi maupun masyarakat pada umumnya. Salah satu yang juga banyak disorot oleh media yaitu tantangan Ekonom muda INDEF Bhima Yudhistira kepada Adamas Belva Syah Devara untuk melakukan debat terbuka. Netray, menelusuri pemberitaan terkait insiden yang melibatkan stafsus milenial Jokowi serta ajakan debat terbuka ini di portal media berita daring. Seperti apakah tanggapan tokoh-tokoh masyarakat mengenai polemik ini dan tantangan debat tersebut? Berikut pantauan Netray selengkapnya.

Polemik Stafsus Jokowi

Berdasarkan pantauan Netray, dalam kurun waktu 15-21 April 2020 terdapat 496 artikel terkait polemik Staf Khusus Presiden Joko Widodo  dari 70 portal media berita daring. Sebanyak 331 artikel didominasi berita dengan sentimen positif selama kurun waktu pemantauan terkait topik tersebut.

Mayoritas artikel yang dipublikasikan menyoroti ranah Pemerintahan sebanyak 72,38% dari keseluruhan pemberitaan, dan ranah Ekonomi sebanyak 20,36%. Frekuensi pemberitaan cenderung landai sejak 15 hingga 20 April 2020, tetapi melonjak secara signifikan sebanyak kurang lebih 4 kali lipat pada tanggal 21 April 2020.

Sentiment Trend News
Peak Time News

Seperti yang diketahui, Presiden Jokowi memiliki 7 Staf Khusus Milenial dan 4 diantaranya pernah melakukan kesalahan dan telah meminta maaf. Keempat stafsus milenial tersebut yaitu Andi Garuda, Billy Membrasar, Angkie Yudistia, dan Belva Devara. Belakangan, publik dihebohkan dengan tindakan Stafsus Jokowi, Andi Taufan Garuda Putra yang menggunakan surat berkop Sekretariat Kabinet yang ditujukan kepada para camat terkait permintaan dukungan kepada perusahaan PT Amartha Mikro Fintek yang dipimpinnya. Dalam surat tersebut, Andi memperkenalkan dirinya kepada semua camat di Indonesia selaku Staf Khusus Presiden. Surat tersebut dikecam oleh sebagian warganet sebab menurut mereka tindakan itu melibatkan perusahaan pribadi dan tidak pantas. Andi Garuda diketahui telah menarik dan meminta maaf terkait hal tersebut.

Alan Christian Singkali, Direktur Pendidikan Institute for Action Against Corruption (IAAC), mengapresiasi permohonan maaf Andi Taufan. Namun, ia menyatakan meskipun Andi Taufan mengaku tidak berniat menggunakan APBN/APBD, pengumpulan dana publik (donasi) dengan instruksi kepada camat dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hukum tindak pidana korupsi (Tipikor). Ia pun menilai ada konflik kepentingan dan penyalahgunaan wewenang (abuse of power) dalam surat itu. Maka dari itu proses evaluasi harus tetap berjalan sesuai mekanisme yang berlaku bagi pejabat publik.

Oleh sebab itu, Staf Khusus Presiden Joko Widodo (Stafsus Jokowi) disarankan melepas jabatan pribadi di perusahaan-perusahaan yang dipimpin mereka. Alasannya, jabatan ini rentan konflik kepentingan dengan status mereka sebagai stafsus. Kemudian, naiknya insiden tersebut pun memicu desakan dari warganet agar Stafsus Andi mundur dari jabatannya. Tak hanya warganet, Peneliti ICW, Egi Primayogha meminta Presiden Jokowi untuk memecat stafsus yang telah melakukan penyimpangan atau menggunakan jabatannya sebagai untuk kepentingan pribadi dan kelompok yang bersangkutan. 

Tokoh masyarakat seperti Lestantya R. Baskoro, wartawan senior, dosen Etika dan Investigasi Reporting Jurusan Jurnalistik Fakultas Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo, Jakarta berpendapat bahwa publik bisa menduga Andi sengaja menggunakan surat berkop Sekretariat Kabinet justru karena ia paham surat dengan simbol Burung Garuda – lambang negara- ini efektif “menekan” para birokrat di bawah. Yang ia luput sadari – justru sebagai generasi milenial yang melek digital – surat tak lazim semacam itu pasti segera viral ke mana-mana. Direktur Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie juga berpendapat kasus ini ada indikasi korupsi juga dengan mencari keuntungan di balik wabah virus corona.

Terkait proyek kerjasama dalam program Kartu Prakerja yang melibatkan Ruangguru, perusahaan milik Staf Khusus Presiden Joko Widodo, Belva Devara, Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra Sandiaga Uno mengaku prihatin sebab ia menilai saat ini masyarakat butuh kepercayaan terhadap pemerintah dalam penanganan wabah virus Covid-19. Oleh karena itu, Sandiaga berpesan kepada stafsus milenial untuk menyampaikan informasi secara transparan sehingga tak ada kecurigaan terkait konflik kepentingan dalam program pemerintah.

Tantangan Debat Terbuka

Tantangan Debat Terbuka

Nama Ekonom Muda INDEF Bhima Yudhistira mencuat serta mulai banyak disebutkan di media berita daring sejak tanggal 19 April 2020, dan memuncak pada tanggal 21 April 2020. Ada 126 artikel yang secara khusus menyebutkan tokoh Ekonom Muda INDEF Bhima Yudhistira dari total keseluruhan 496 artikel yang membahas mengenai polemik stafsus milenial ini.

Mencuatnya nama Ekonom Bhima Yudhistira dipicu oleh tantangan debat terbuka kepada Stafsus Milenial Presiden Belva Devara yang diajukannya melalui unggahan Instagram miliknya pada Minggu, 19 April 2020. Debat terbuka ini sengaja diajukan oleh Bhima guna membahas Kartu Prakerja dan beberapa permasalahan vital Indonesia lainnya, dengan tujuan untuk memahami gagasan milenial dalam berkontribusi untuk perekonomian negara. Bhima mengkritik konflik kepentingan di tubuh para asisten langsung Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu. Padahal, menurutnya publik telah memiliki ekspektasi dan harapan yang sangat tinggi terhadap mereka. Namun, adanya konflik kepentingan yang mereka lakukan merusak ekspektasi itu.

Terkait ajakan debat terbukanya ini, Bhima mengaku sudah berupaya melakukan komunikasi dengan CEO Ruangguru Adamas Belva. Namun hingga pemberitaan tersebut diturunkan belum ada jawaban dari yang bersangkutan. Bhima menegaskan, ajakan debat terbuka ini merupakan inisiatif pribadinya sebagai seorang ekonom tanpa membawa lembaga yang selama ini menaunginya, INDEF.

Pakar politik dan hukum Universitas Nasional Jakarta (Unas), Saiful Anam mengaku mendukung debat tersebut, sebab itu merupakan kesempatan bagi stafsus milenial untuk menunjukkan kepantasan sebagai stafsus presiden dan publik pun paham kemampuan stafsus milenial dalam memecahkan masalah. Menurutnya, jika Belva Devara tidak menanggapi undangan dari Bhima Yudhistira tersebut, maka publik akan memberi penilaian buruk pada kualitas CEO Ruangguru itu dan para Staf Khusus Milenial Jokowi yang lain. Sementara jika tantangan diterima, maka publik bisa mendapat tontonan menarik dan berkualitas dari kalangan milenial.

Ahli filsafat, Rocky Gerung juga mendukung langkah Bhima Yudhistira mengajak debat Adamas Belva Syah Devara lantaran penunjukan Ruang Guru sebagai aplikator Program Kartu Prakerja seperti telah membuka tabir adanya dugaan penyalahgunaan wewenang dan conflict of interest di lingkaran Presiden Joko Widodo. Menurutnya, bukan hanya Belva Devara yang harus diajak debat, melainkan semua lingkaran pemerintah, sebab dia menduga kasus Belva seperti sebaran virus corona yang tidak terlihat tapi berbahaya.

Mundurnya Belva Devara

Pada tanggal 21 April 2020, pemberitaan mengenai kasus konflik kepentingan dan abuse of power yang dilakukan oleh stafsus milenial Jokowi memuncak ketika CEO Ruangguru Adamas Belva Syah Devara mengumumkan pengunduran diri dari posisinya sebagai Staf Khusus Presiden Joko Widodo. Dia mengaku keputusannya ini karena tidak mau membuat polemik berkepanjangan terkait program Kartu Prakerja dan Ruangguru. Keputusan ini pun sudah disetujui oleh Kepala Negara.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan Jokowi memahami alasan pengunduran diri yang disampaikan Belva. Sejak awal, Jokowi ingin anak muda berkontribusi untuk kemajuan Indonesia  dengan gagasan-gagasan inovatif, kreatif sekaligus memberikan ruang belajar bagi anak-anak muda terkait tata kelola pemerintahan.

Mundurnya Belva Devara sebagai Stafsus Presiden mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan. Langkah CEO Ruangguru itu dinilai memberikan tradisi politik dan contoh akhlak yang baik. Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago mengungkapkan langkah Belva tersebut patut diapresiasi sebab menjadi spektrum dan energi baru dalam politik Indonesia, bagaimana anak muda memberikan contoh akhlak yang baik, mundur demi kebaikan yang lebih baik lagi, serta memiliki rasa malu. Dia pun menantang para politisi senior untuk belajar dan merenung dari sikap yang dilakukan Belva untuk mundur secara terhormat jika sudah dianggap tidak mampu, menjadi beban dan seterusnya.

Pengamat Komunikasi Politik Ari Junaedi juga mengungkapkan bahwa pilihan Belva mundur dari Stafsus Jokowi sudah sangat tepat. Mundurnya Belva ikut menyelamatkan citra Jokowi dari tudingan tidak sedap, yakni memanfaatkan posisi kekuasaan untuk kepentingan pribadi.

Perbincangan di Media Sosial

Polemik stafsus milenial Jokowi dan tantangan debat terbuka yang diajukan oleh Bhima Yudhistira pun tak luput dari berbagai komentar warganet di Twitter. Kasus ini mulai banyak mendapat sorotan di Twitter mulai tanggal 20 April 2020 dan melonjak pada tanggal 21 April 2020. Sentimen cuitan pada kurun waktu 15-21 April 2020 didominasi sentimen netral. Namun, jumlah sentimen negatifnya lebih tinggi dari sentimen positifnya. Dapat dilihat pada grafik di bawah, dari 4.013 tweets, 1.088 diantaranya bersentimen negatif, dan 690 bersentimen positif.

Sentiment Trend Twitter
Peak Time Twitter

Pada tanggal 20 April 2020, kosa kata seperti ‘milenial’, ‘stafsus’, dan ‘debat’,menjadi Top Words di channel Twitter. Kemudian, pada tanggal 21 April 2020, kosa kata yang menjadi Top Words di channel Twitter yaitu ‘belva’, ‘devara’, ‘stafsus’, dan ‘mengundurkan’.

Top Words Twitter – 20 April 2020
Top Words Twitter – 21 April 2020

Jumlah cuitan pada tanggal 20 April 2020 naik menyusul pemberitaan di portal media berita daring tentang ajakan debat terbuka Ekonom Muda INDEF Bhima Yudhistira kepada Stafsus Jokowi Belva Devara. Mayoritas warganet mengecam tindakan stafsus milenial tersebut dan mendukung Bhima Yudhistira yang menantang debat terbuka. Ada pula yang mendesak agar Andi Taufan dan Belva Devara mengundurkan diri saja dari jabatannya sebagai stafsus Presiden.

Namun, ada juga beberapa warganet yang memberikan dukungan kepada Belva Devara untuk menjawab tantangan debat tersebut untuk membuktikan integritasnya sebagai Stafsus Presiden Joko Widodo.

Tanggapan Warganet Perihal Pengunduran Diri Belva Devara

Seperti yang telah diberitakan oleh berbagai portal media berita daring, pada tanggal 21 April 2020, Belva Devara mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Staf Khusus Presiden Joko Widodo. Pada hari yang sama, frekuensi cuitan mengenai topik ini pun melesat hingga hampir 3 kali lipat dari hari sebelumnya. Gambar di bawah ini merupakan surat terbuka pengunduran diri Belva Devara yang diunggah ulang oleh @ravioputra di akun Twitter-nya, dan menjadi salah satu Popular Media yang terpantau oleh Netray. Gambar ini mendapatkan 18,063 favourites dan di-retweeted sebanyak 8.113 kali oleh warganet. Lantas, bagaimanakah tanggapan warganet Twitter mengenai mundurnya Belva Devara?

Berdasarkan hasil pantauan Netray, cuitan warganet terkait topik ini pada 21 April 2020 secara keseluruhan jumlah sentimen negatifnya lebih banyak dibandingkan positif. 

Akan tetapi, jika dilihat dari Social Network Analysis report, akun Twitter Belva Devara @AdamasBelva yang menjadi Top Mentioned User masih banyak menerima mentioned didominasi sentimen netral pada tanggal tersebut.


Hal itu disebabkan, masih banyak warganet yang mengapresiasi pengunduran diri Belva Devara seperti yang dicuitkan oleh akun Twitter @raviopatra, yang menjadi Top Retweeted User terkait topik ini.

Demikian pantauan Netray terkait polemik Staf Khusus Presiden Joko Widodo dari portal media berita daring maupun media sosial Twitter. Mundurnya Adamas Belva Syah Devara sebagai staf khusus (stafsus) ‘milenial’ Presiden Joko Widodo (Jokowi), memang membuat banyak pihak melontarkan komentar pro dan kontra. Beberapa tokoh masyarakat berpendapat pengunduran diri CEO Ruangguru itu sebagai Staf Khusus Presiden Joko Widodo belum tentu menghilangkan polemik di tengah masyarakat terkait dengan respons terhadap pemilihan Ruangguru yang ditunjuk sebagai mitra pelaksana Kartu Prakerja.

Akan tetapi, langkah yang diputuskan Belva Devara untuk memilih hengkang dari posisinya sebagai Stafsus Presiden dan fokus menjalankan bisnisnya juga banyak menerima apresiasi dari banyak pihak sebab memberikan contoh bahwa sebagai sosok milenial, sangat penting untuk menjaga integritas dan menghindari konflik kepentingan yang bisa saja muncul saat masuk dalam lingkup pemerintahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: