Pernyataan Megawati Tentang Sumbangsih Kaum Milenial dan Jakarta Amburdul ‘Berhasil’ Didengar Publik dengan Nada Negatif

megawati

Mempertanyakan sumbangsih milenial lalu menyatakan ‘Jakarta amburadul’ membuat nama Megawati Sukarnoputri kian santer dibicarakan publik. Pidato Ketua Umum PDIP dalam acara kebangsaan yang dilaksanakan pada 10 November 2020 tersebut menjadi sorotan media. Pernyataan Megawati terkait kondisi Jakarta mencuri perhatian karena diksi yang digunakannya berhasil menyentil banyak kalangan.

“Saya bilang Jakarta ini menjadi amburadul. Karena apa, ini tadi seharusnya City of Intellect ini dapat dilakukan tata kotanya, masterplan-nya, dan lain sebagainya,” ujar Megawati. Pemilihan kata amburadul yang digunakan Bu Mega menjadi pusat perhatian. Beragam judul media hingga cuitan warganet menyoroti diksi tersebut. Masyarakat hingga tokoh elite politik pun berbondong-bondong mengomentari pernyataan tersebut.

Dengan ini, Media Monitoring Netray memantau keramaian media berita dan tanggapan warganet Twitter tentang pernyataan Megawati terkait sumbangsih milenial hingga ‘Jakarta amburadul’. Bagaimana framing media berita menyoroti pernyataan tersebut? Dan seperti apa tanggapan warganet yang tergelitik akan pernyataan tersebut?

Megawati Mempertanyakan Sumbangsih Milenial

Sambutan Megawati dalam acara peresmian Kantor DPP PDIP pada 28 Oktober 2020 menyinggung hal terkait sumbangsih milenial. Ketum PDIP tersebut meminta Presiden Jokowi untuk tidak memanjakan kaum muda yang disebut kaum milenial tersebut. Di sisi lain, Megawati juga menyinggung aksi demo yang justru merusak fasilitas umum.

Demo Ommnibus Law yang berujung perusakan fasilitas umum, seperti halte bus TransJakarta dan pos polisi di Jakarta dijadikan sampel Megawati dalam pernyataanya tersebut. Ia menegaskan, aksi demo diizinkan dalam undang-undang, tetapi demo yang berujung perusakan tersebut tidak diatur di dalamnya.

Lantas, nasihat Megawati tersebut menjadi bahan pemberitaan media yang membawanya pada framing berita bernada negatif. Pemberitaan terkait kata kunci ini memuncak pada 28 Oktober 2020, tepat di hari yang sama saat Megawati memberikan pernyataan tersebut. Berbagai portal media mengutip pernyataan kontroversial Megawati yang cenderung ‘mengecilkan’ kaum milenial sehingga menyumbang sentimen negatif untuk topik ini. Demikian halnya dengan pemberitaan yang mengambil suara atau perspektif milenial yang secara tidak langsung memberi nada negatif kepada entitas Megawati.

Sebagai contoh yang ditulis portal berita RMOL, menurut Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah kritik Megawati dianggap salah jika milenial yang dimaksud adalah mereka yang melakukan demo Omnibus Law sebab milenial ini justru dianggap peduli dengan nasib bangsa dan rakyat Indonesia. Dedy menganggap kritik itu tepat jika disasarkan kepada milenial yang berada di lingkaran pemerintah, yakni stafsus milenial.

Senada dengan hal tersebut, warganet Twitter juga mengganggap kritik sumbangsih milenial tersebut lebih tepat disasarkan kepada stafsus presiden yang juga berasal dari kalangan milenial itu. Seperti yang diungkapkan Dark Justice2, ia menganggap stafsus milenial masih nihil sumbangsih.

Sama dengan portal media, respon bernada negatif juga banyak dicuitkan warganet terkait topik ini. Perbincangan ini mulai ramai ditwitkan warganet dan memuncak pada tanggal 29 Oktober 2020 dengan total twit sebanyak 1.396 yang didominasi sentiment negatif sebanyak 836.

Opini Megawati ‘Jakarta Amburadul’

Sempat meredam beberapa saat, Megawati kembali menjadi sorotan setelah memberikan pernyataan terkait kondisi Jakarta dalam pidatonya yang dilakukan pada 10 November 2020. Penghargaan City of Intellect dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang diberikan kepada Kota Semarang menjadi bahan kritikan Megawati terhadap kondisi Jakarta. Namun, dalam sumbangan pidatonya Megawati memilih kata ‘amburadul’ untuk mengungkapkan kondisi Jakarta. Sontak, pernyataan tersebut terdengar negatif oleh media dan publik.

Di sisi lain, meski tak mendapat penghargaan City of Intellect, Jakarta telah mendapatkan penghargaan Sustainable Transport Award (STA) 2021. Tentu saja hal ini seakan kontras dengan apa yang dinyatakan Megawati dalam pidatonya. Dengan adanya kritik ini, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria mengatakan akan menjadikan kritikan tersebut sebagai masukan untuk membenahi Jakarta agar lebih baik.

Beberapa elite politik berbondong-bondong memberikan tanggapan terkait hal ini. Seperti halnya yang diungkapkan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, Muhammad Taufik yang mengatakan DKI Jakarta telah meraih penghargaan baik di skala nasional dan internasional. Hal ini patut untuk membuktikan bahwa DKI Jakarta telah melakukan banyak pembenahan. Hal senada juga diungkapkan oleh Tengku Zulkarnain, Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang memberikan apresiasi kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang mampu membuat ibukota menjadi semakin bersih dan nyaman.

Pidato ‘amburadul’ tersebut kembali membawa nama Megawati dalam framing berita bernada negatif. Puncak pemberitaan yang terjadi pada tanggal 10 November 2020 tersebut membawa nama Megawati Soekarnoputri diberitakan sebanyak 106 artikel dan 79 artikel di tanggal 11 November 2020. Pemilihan diksi negatif tersebut sontak juga menggiring pemberitaan media dengan nada yang sama.

Walaupun mendapat stigma negatif, mantan Presiden RI ke lima tersebut menyatakan tidak takut dibully terkait hal yang telah dinyatakannya selama ini. Ia mengatakan bahwa hal yang dilakukannya selama ini adalah untuk kemajuan bangsa Indonesia sehingga Megawati merasa tidak masalah atas rundungan tersebut.

Tak hanya media berita, warganet Twitter juga ikut ramai mengomentari hal ini. Seperti yang diungkapan salah satu warganet, @marlina_idha menolak keras pernyataan Megawati tersebut dan mengeklaim bahwa Jakarta telah mendapatkan penghargaan di bawah kepemimpinan Anies Baswedan.

Puncak perbincangan di media Twitter terjadi pada tanggal 12 November dengan total twit sebanyak 1.556 yang didominasi sentiment negatif sebanyak 777 twit. Keluhan ‘amburadul’ yang dirasakan Megawati, dirasakan sebaliknya oleh warganet sehingga kosa kata tersebut ramai diperbincangkan di jagat Twitter.

Dengan kata kunci megawati dan bu mega, Netray berhasil menghimpun 9.331 twit dengan dominasi sentiment negatif sebanyak 5.035 pada portal media Twitter. Dalam rentang waktu 15 Oktober-13 November 2020 tersebut, @fadlizon, @geloraco, dan @OposisiCerdas masuk ke dalam jajaran Top Account berdasarkan Sort by Popularity, yang artinya menjadi akun yang paling banyak mendapat impresi terkait kata kunci ini. Cuitan Fadli Zon yang menyatakan Indonesia-lah yang amburadul mendapatkan impresi paling banyak yang mencapai 358 retweet dan 2.425 like.

Sedangkan dalam portal media berita Indonesia, kata kunci ini dalam rentang waktu yang sama telah diberitakan sebanyak 1.11o artikel dari 83 media berita. Tiga portal media yang paling banyak membahas topik ini ialah RMOL, Merdeka, dan Warta Ekonomi.

Baik di media berita maupun Twitter, topik ini ramai diperbincangkan dengan nada negatif. Pernyataan sumbangsih kaum milenial hingga Jakarta ‘amburadul’ berhasil mencuri perhatian publik. Kritik dan nasihat mantan Presiden ke lima ini masih didengar sumbang oleh masyarakat. Meksi demikian, Megawati tak gentar melawan bully dari publik. Begitu halnya masyarakat yang juga tak ingin goyah membuktikan kritikan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: