Percakapan Politik Dinasti, Mencari Pemimpin untuk Jutaan Rakyat Solo

Rakyat Kota Solo tahun ini mendapat giliran untuk memilih siapa pemimpin baru mereka ke depan. Wali kota yang saat ini sudah menjabat selama dua periode sehingga tak lagi bisa ikut berpartisipasi sebagai calon yang dipilih layaknya petahana di hampir semua wilayah Indonesia.

Pilihan pemimpin baru berada di tangan partai yang harus mendapat rekomendasi dari Dewan Pimpinan Pusat Partai (DPP). Mereka yang akan menentukan siapa saja yang layak untuk diusung dan ditawarkan kepada pemilih pada perhelatan Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah).

Majunya Gibran dalam Perspektif Berita dan Sosial Media

Konteks Kota Solo memiliki fenomena yang unik ketika suara konstituen di kota ini selama lebih dari satu dekade dikuasai oleh satu partai yaitu PDI Perjuangan. Sehingga dalam beberapa pilkada terakhir, calon wali kota yang diusung oleh partai ini terpilih secara mutlak. Tahun ini PDI-P kembali mengajukan calon wali kota yang mengejutkan banyak pihak. Mereka memilih Gibran Rakabuming Raka sebagai calon pemimpin masa depan Kota Surakarta.

Pemilihan putra pertama Presiden Joko Widodo ini dianggap sebagai sinyal kemunculan dinasti politik oleh banyak pihak. Media monitoring Netray melihat tendensi ke arah subyek pembicaraan ini ketika melihat sejumlah frase yang mencuat dalam perbincangan netizen sosial media Twitter dari tanggal 16 Juli hingga sekarang.

Terlihat dari word clouds di atas, kata dan frase seperti dinasti, olgarki, keluargaberkuasa, bubarkandinastiboneka, hingga bapaknya dan anak menguatkan kecenderungan pembahasan sosial media Twitter pada dinasti politik.

Berbeda dengan sosial media, media massa tak banyak menyorot wacana dinasti politik terkait majunya Gibran dalam pilwalkot Surakarta. Surat kabar elektronik lebih banyak membicarakan proses politik dibalik manuver rekomendasi yang sebelumnya digadang-gadang akan dimiliki Achmad Purnomo.

Hal ini menunjukan karakter politik tersendiri di dalam kepartaian Indonesia. Yakni peran DPP partai lebih kuat dari pada suara konstituen yang diwakili oleh Dewan Pimpinan Cabang partai (DPC) di daerah.

Sentimen atas Politik Dinasti

Hingga 22 Juli, Netray berhasil mengumpulkan 1.168 berita berdasarkan kombinasi kata kunci “gibran rakabuming”, “pdip”, “jokowi”, “solo”, dan “dinasti”. 676 berita terindeks memiliki sentimen positif terhadap proses politik ini dan 163 entry bersentimen negatif. Sisanya ditulis dengan tekanan netral.

Dominasi sentimen positif menunjukan bahwa media tidak terlalu memperkarakan wacana dinasti politik. Bagaimanapun upaya untuk mempertahankan kekuasaan melalui hubungan keluarga sudah cukup jamak terjadi di dalam demokrasi Indonesia. Proses politik di balik langkah ini tetap menjadi subjek yang menarik untuk dilaporkan alih-alih justifikasi atas budaya politik tertentu.

Kecenderungan sentimen positif terkait isu politik dinasti di media massa tak lantas diikuti oleh perbincangan warganet di Twitter. Mengambil periode yang sama, Netray melihat bahwa perbincangan ini mendapat sentimen negatif cukup signifikan dari pengguna Twitter.

Selama satu minggu, Netray merangkum setidaknya 8.217 total cuitan (gbr 6) yang diikuti 209ribu lebih total impresi (gbr 5). Pada tanggal diumumkannya rekomendasi Gibran dari DPC PDIP, terpantau muncul 1.131 cuitan dengan 456 sentimen positif dan 334 sentimen negatif. Jumlah ini berlipat sehari setelahnya yakni mencapai 2.317 cuitan yang terbagi menjadi 1.018 sentimen negatif dan 756 cuitan positif.

Siapa Saja yang Berbicara

Dari pemantauan ini, muncul sejumlah akun yang memiliki tinggat interaksi tinggi seperti @podoradong, @kafirradikalis, juga @K1ngPurw4 (gbr 7). Akun @podoradong, yang mendapatkan interaksi lebih dari 20ribu, terkenal kerap memberi sentimen negatif terhadap kepemimpinan presiden Joko Widodo (gbr 8). Termasuk dua akun yang disebutkan sebelumnya.

Meski sentimen negatif terhadap isu politik dinasti atas terpilihnya Gibran Rakabuming sebagai calon wali kota Solo, netizen Twitter terhitung masih mengapresiasi langkah politik ini. Terlihat bahwa sentimen positif tetap memadati perbincangan sejak diturunkannya rekomendasi hingga saat ini. Sentimen positif hanya kalah jumlah di tanggal 18 Juli dan 19 Juli saja.

Yang menarik adalah tidak banyak akun yang selama ini mendukung pemerintah seperti @GunRomli atau @TeddyGusnaidi yang ikut menggerakkan pembicaraan terkait politik dinasti (gbr 7). Meskipun kata kunci yang digunakan oleh Netray bersifat cukup netral, seperti “gibran rakabuming” dan “solo”.

Diagram di atas juga bisa dibaca bahwa sentimen positif atas sosok Gibran maupun keputusan DPC PDI-P terkait rekomendasi dirinya menjadi calon wali kota Solo muncul secara organik di kalangan warganet Twitter. Perkara ini tentu tidak lepas dari situasi konstituen Kota Surakarta yang sebagian besar loyalis partai berlambang banteng tersebut.

Buntutnya, trend sentimen negatif tidak dapat bertahan lama berada di atas sentimen positif. Setelah dua hari, impuls dari akun yang menyebarkan sentimen negatif mulai berkurang efeknya. Sejak tanggal 20 Juli, sentimen positif stabil mendominasi perbincangan terkait manuver Gibran dan partainya.

Tilikan ke Depan Dinasti Politik

Bagaimanapun menyebut politik dinasti di alam demokrasi masih menyimpan nuansa perdebatan. Sistem elektoral memperbolehkan siapa saja maju sebagai calon pemimpin. Tak peduli dia adalah kerabat dekat sosok yang sedang berkuasa saat ini.

Adapun yang membedakan atmosfir politik dinasti rezim monarki dengan politik Indonesia sekarang adalah Presiden Joko Widodo tak memberikan kekuasaan secara langsung kepada Gibran atau keluarganya yang lain. Proses politik dan elektoral tetap akan menentukan nasib calon pemimpin di masa yang akan datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: