Peninggalan Didi Kempot – Campursari bagi Anak Muda Kini

Sosok penyanyi campursari Didi Kempot kerap menjadi sorotan karena hampir semua lagunya disukai masyarakat. Lagu-lagunya yang bertema patah hati, membuat Didi Kempot dijuluki The Godfather of Broken Heart. Namun, pada Selasa, 5 Mei 2020, Didi Kempot diberitakan meninggal dunia sekitar pukul 07.45 WIB di RS Kasih Ibu Solo. Meninggalnya sang maestro yang juga sering dipanggil Lord Didi ini membawa duka mendalam bagi banyak orang.

Meskipun sempat redup di era 2000-an, nama Didi Kempot yang memulai jerih payahnya sejak tahun 1980-an kembali melejit di awal 2019 hingga kini. Namun, di puncak ketenarannya, sang maestro wafat. 

Lagu-lagu Didi Kempot yang diciptakan puluhan tahun silam ternyata pada tahun 2019 kembali mencuri hati para generasi muda dan membuat Didi Kempot kembali eksis. Konser-konsernya pun dipenuhi para milenial. Secara khusus Netray menelusuri media sosial serta pemberitaan mengenai Didi Kempot sepanjang tahun 2019 serta bagaimana sosok Didi Kempot telah mengubah pandangan anak muda tentang lagu-lagu campursari.

Awal Bersinar Kembali

Melihat dari Twitter Monitoring Channel Netray, ada 259 tweets yang secara spesifik menyebutkan keyword ‘campursari’ sepanjang tahun 2019. Perbincangan soal genre musik campursari mulai muncul pada pertengahan Juni 2019 dan mencapai puncaknya pada tanggal 15 Juli 2019.

Peak Time Twitter – 2019

Saat itu, pada tanggal 18 Juni 2019 ada beberapa cuitan yang mengeluhkan tentang ormas radikal yang membubarkan acara Campursari di Sukoharjo. 

Sementara itu, pada tanggal 15 Juli 2019 warganet Twitter banyak mencuitkan soal bagaimana Didi Kempot kembali naik pamor dan telah membuat lagu campursari sebagai genre musik yang banyak disukai anak muda saat ini. Namanya kembali melejit setelah acara Ngobam (Ngobrol Bareng Musisi) Didi Kempot. Ngobam itu sendiri pun merupakan salah satu konten Gofar Hilman di YouTube. Padahal dulunya lagu-lagu campursari dipandang sebelah mata oleh kaum muda. Berikut adalah sampel tweets yang muncul pada tanggal 15 Juli 2019.

Kemudian, kosakata ‘campursari’, ‘didi’, ‘kempot’, dan ‘muda’ merupakan kosakata yang paling banyak disebutkan dalam cuitan warganet di topik ini. Hal ini mengindikasikan bahwa campursari di mata anak muda kini identik dengan Didi Kempot.

Top Words Twitter – 15 Juli 2019

Penumpang Hashtag di Instagram

Berbeda dengan Twitter, jumlah unggahan yang berkaitan dengan topik mengenai campursari ini terbilang sedikit. Terdapat total 38 unggahan yang mendapatkan 1.584 impressions di sepanjang 2019.

Statistics Instagram – 2019

Kemudian, jika dilihat dari hashtag terkait, hashtags seperti #didikempot dan #sobatambyar banyak disebutkan dalam unggahan pada periode 2019. Namun, hashtags yang mendominasi lainnya kebanyakan justru tidak ada kaitannya dengan ‘campursari’.

Related Hashtag Instagram – 2019

Menurut Peak Time, topik mengenai ‘campursari’ di Instagram baru mulai naik di bulan September 2019 – memasuki bulan Oktober 2019.

Peak Time Instagram – 2019

Jumlah unggahan memuncak pada tanggal 4 Oktober 2019. Namun, isi dari unggahan-unggahan tersebut tidak ada kaitannya dengan hashtag yang ditulis. Unggahan yang “numpang hashtag” lebih mendominasi dibandingkan unggahan yang memang menampilkan soal kesenian campursari itu sendiri. Berikut adalah sampel unggahan di Instagram yang menggunakan hashtag #campursari pada tanggal 4 Oktober

Ambyarnya Konangan Concert

Menurut pantauan News Monitoring Channel Netray, jumlah pemberitaan mengenai topik campursari memuncak pada tanggal 20 September 2019. 

Peak Time & Sentiment Trend News – 2019

Pada tanggal tersebut, ‘didi’, ‘kempot’, dan ‘lagu’ merupakan kosakata yang paling banyak disebutkan dalam pemberitaan. Hal ini mengindikasikan bahwa kata kunci ‘campursari’ telah identik dengan lagu-lagu Didi Kempot yang pada tahun ini kembali populer, terlebih di kalangan anak muda.

Word Cloud News – 20 September 2019

Kemudian, media berita daring terkait topik tersebut pada 20 September 2019 didominasi pemberitaan soal Didi Kempot yang menggelar konser setaraf musisi internasional bertajuk “Konangan Concert”. Didi Kempot menyanyikan lagu-lagu andalannya dengan sedikit konsep yang berbeda dan tampil dalam balutan sekelas musisi internasional, tetapi tetap bernyanyi dengan aransemen yang original.

Konser tersebut dihadiri oleh penonton yang didominasi generasi milenial dan sebanyak 2500 tiket sudah habis terjual. Diberitakan bahwa banyak anak-anak muda yang hafal dengan lagunya dan mereka yang hadir di konser Didi Kempot juga sangat menghayati lagu-lagu yang dinyanyikan idolanya. 

Mengenai hal itu, Didi Kempot mengaku bingung, kenapa baru saat ini karyanya diminati oleh kalangan luas, sehingga banyak tawaran manggung dimana-mana. Terlebih, bukan hanya digemari oleh masyarakat seusianya, Didi Kempot diberitakan telah menjadi idola baru bagi kaum milenial. Banyak anak muda yang saat ini mengelu-elukan Didi Kempot hingga memberikan julukan tersendiri bagi idolanya itu, yaitu the “Godfather of Broken Heart”. Julukan tersebut disematkan pada Didi Kempot lantaran penyanyi tersebut kerap menciptakan lagu-lagu yang mayoritas bertema patah hati dan lagu-lagunya kini digemari anak muda lantaran mewakili perasaan mereka.

Demikianlah pantauan Netray mengenai peninggalan Didi Kempot yang telah membuat lagu-lagu campursari yang dulunya dipandang sebelah mata, menjadi genre musik yang digemari oleh anak muda. Hal ini pun menjadi bukti kalau Indonesia tidak bisa melupakan budayanya. Selamat jalan, Lord Didi, the Godfather of Broken Heart. Karya-karyamu akan selalu dikenang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: