Mural Kritik Pemerintah Dihapus Hingga Tuai Kontroversi

Mural merupakan lukisan pada dinding yang telah ada sejak 30.000 sebelum Masehi. Kerap digunakan sebagai sarana berekspresi, mural bukan merupakan hal yang asing bagi masyarakat. Belum lama ini perbincangan terkait mural menjadi topik hangat di media sosial. Hal ini dipicu adanya penghapusan beberapa mural yang dinilai mengandung kritik terhadap pemerintah oleh pihak kepolisian. Sayangnya penghapusan mural tersebut justru menuai kontroversi dan menimbulkan anggapan pemerintah yang anti kritik. Media Monitoring Netray melakukan pemantauan terkait topik ini untuk melihat perdebatan dari warganet. Simak hasil pantauan Netray berikut.

Mural

Bila diamati melalu Top Words di atas terlihat beberapa kosakata terkait topik ini, seperti dihapus, kritik, takut, jokowi404notfounf, kuhp, dan beberapa kosakata lainnya. Sebelumnya, media sosial ramai dengan mural bergambar wajah Presiden Joko Widodo bertuliskan ‘404: Not Found‘. Mural tersebut berlokasi di Batuceper, Tangerang, Banten. Tepatnya di terowongan inspeksi Tol Kunciran-Bandara Soekarno Hatta. Mural tersebut tidak diketahui siapa pembuatnya, kemudian viral dan dihapus oleh pihak kepolisian Tangerang.

Netray melakukan pemantauan sejak 11 Agustus 2021 sampai dengan 17 Agustus 2021. Berdasarkan pantauan Netray ditemukan sebanyak 35.4 ribu tweets warganet yang membicarakan topik ini dengan didominasi oleh tweets bersentimen negatif. Adapun jumlah impresi terkait topik ini mencapai 96.6 juta dengan potensi jangkauan sebesar 152.9 juta. Melalui grafik di atas terlihat perbincangan warganet pun meningkat secara signifikan sejak 13 Agustus 2021 hingga puncaknya terjadi pada 16 Agustus 2021. Meski telah dihapus oleh pihak kepolisan, jejak digital mural tersebut telah lebih dulu terekam dan tersebar di media sosial dan menjadi perbincangan masyarakat luas.

Pemerintah Hapus Mural dan Buru Pelaku, Anti Kritik kah?

Sebagai lukisan yang telah ada sejak sebelum Masehi, mural juga memiliki fungsi untuk mendokumentasikan peradaban. Mural pada zaman kuno juga memuat sejarah kehidupan manusia seperti cara mereka berburu, memperoleh makanan hingga berbagai tradisi yang terekam melalui mural. Memasuki era modern mural berkembang menjadi seni yang lebih kontemporer sebagai sarana menyampaikan ekspresi sosial.

Kita dapat menemukan mural di berbagai tempat dengan gambar dan makna yang beragam. Tak jarang mural-mural tersebut memuat pesan satire dan tidak diketahui siapa pembuatnya. ‘Jokowi 404: Not Found’ menjadi salah satu mural yang belakangan membuat kehebohan karena dinilai menghina kepala negara. Padahal bagian mata dalam mural tersebut ditutupi oleh pesan ‘404:Not Found’. Namun, hal ini tidak mengurangi sangkaan dari berbagai kalangan bahwa gambar dan makna dalam mural tersebut ditujukan kepada bapak Presiden Joko Widodo. Hal ini kemudian menimbulkan beragam respons warganet.

Mereka yang pro akan penghapusan mural tersebut menilai mural ‘404:Not Found’ tidak pantas. Mereka menilai gambar tersebut memiliki dalang intelektual dan mengingatkan siapa saja untuk boleh mengkritik namun jangan menghina seorang kepala negara. Saat ini dikabarkan pelaku kini tengah diburu oleh pihak kepolisian.

Menanggapi hal tersebut mereka yang kontra pun menilai bahwa penghapusan mural tersebut merupakan salah satu bentuk dari kematian demokrasi di Indonesia. Mereka menilai pemerintah menjadi anti kritik dengan memburu pembuatnya seolah teroris. Meski sebagai pembelaannya yang dilansir melalui laman Kompas TV Staf Khusus Mensesnag Faldo Maldini mengatakan bahwa Presiden tidak pernah marah saat dikritik. Namun, hal ini justru dipertanyakan oleh Sosiolog Politik UNJ, Ubedilah Badrun yang mengatakan bahwa jika Presiden tidak marah saat dikritik, lantas kenapa mural harus dihapus?

Padahal mural yang memuat sindiran terhadap elite penguasa kerap ditemukan di berbagai wilayah. Hal ini tak hanya menjadi sebuah karya seni namun juga sarana berekspresi bagi masyarakat. Sayangnya, tak hanya mural ‘404:Not Found’ saja yang mengalami penghapusan tetapi juga salah satu mural lainnya yang berada di Pasuruan. Mural tersebut bertuliskan ‘Dipaksa Sehat di Negara yang Sakit’. Penghapusan mural tersebut dinilai menjengkelkan bagi warganet yang kontra akan tindakan pemerintah yang lagi-lagi menunjukkan sikap anti kritik.

Pembuat Mural Diburu Bukti dari Lumpuhnya Kebebasan Berekspresi dan Kritik yang Dibatasi

Mural dihapus dan pembuat diburu oleh pihak kepolisian menjadi tindakan yang justu menuai kritik tajam dari warganet. Kritik tersebut salah satunya disampaikan oleh akun @anggasasongko yang mengatakan politisi takut sama mural adalah secupu-cupunya politisi dan menurutnya berkesenian adalah setangguh-tangguhnya oposisi. Tak sampai disitu akun @BudiSetyarso juga mengingatkan sulitnya berekspresi di masa ini, mengingat mengkritik melalui meme dapat dijerat ITE, sementara kritik melalui mural juga dapat dihadang KUHP.

Salah satu warganet bahkan membandingkan hal ini dengan kebebasan berekspresi di negara lainnya, yaitu di Amerika saat Donald Trump menjadi bahan mural namun pembuatnya tidak pernah diburu dan dipersoalkan. Hal tersebut karena di Amerika menjunjung tinggi kebebasan dalam berekspresi. Menariknya lagi salah satu warganet juga menilai bahwa mural-mural tersebut lebih artistik dibanding baliho-baliho parpol yang kini mulai ramai menghiasi papan reklame jalanan di berbagai wilayah.

Top Categories

Pada kategori Top Accounts terlihat akun @mrcipage menempati urutan teratas kategori ini, diikuti oleh beberapa akun lainnya, seperti @sketsagram, @BudiSetyarso, dan beberapa akun lainnya. Selain itu, pada kategori Top People terlihat nama Presiden Joko Widodo menempati urutan teratas kategori ini. Tentu saja hal ini berkaitan dengan dirinya sebagai kepala negara Indonesia yang kini menjadi sasaran kritik masyarakat Indonesia.

Pada kategori Top Organizations terlihat KPK dan Demokrat menempati urutan teratas kategori ini. Hal ini berkaitan dengan tanggapan fraksi Demokrat yang mengatakan bahwa lebih baik polisi membantu KPK untuk menangkap Harun Masiku dibanding memburu pembuat mural Jokowi. Adapun pada ketegori Top Complaints terlihat beberapa kata keluhan dari warganet, seperti tidak punya peradaban, keterlaluan, otoriter, dan beberapa kosakata lainnya yang mewarnai keluhan warganet dalam menanggapi persoalan ini. Sementara itu, pada kategori Top Locations terlihat Tangerang dan Pasuruan menjadi lokasi utama perbincangan warganet. Hal ini berkaitan dengan dua wilayah tersebut merupakan lokasi dari mural yang dihapus oleh pihak kepolisian setempat.

Sebagai sarana berekspresi mural dapat menjadi media untuk menuangkan isi pikiran dari pembuatnya. Lahirnya kritik melalui berbagai media merupakan bentuk kekesalan masyarakat terhadap para penguasa yang dinilai mengecewakan. Terutama belakangan ini saat pandemi tak kunjung usai sementara kebijakan pemerintah justru dinilai menyengsarakan masyarakat kecil. Keadaan yang sulit tersebut melahirkan sebuah kritik atas kebijaksanaan seorang pemimpin yang seharusnya mampu melindungi dan memberi rasa aman terhadap rakyatnya. Tak heran bila akhirnya beberapa orang memilih melampiaskan hal tersebut melalui karyanya.

Demikian hasil pantauan dan pengamatan Netray, simak informasi lainnya melalui https://blog.netray.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: