Merangkum Wujud Permasalahan Sosial Bekal Resolusi 2021

permasalahan sosial

Tahun 2021 masih baru berjalan beberapa hari saja. Sangat lumrah untuk berharap yang terbaik akan terjadi di tahun ini. Harapan di awal tahun kerap disebut dengan istilah resolusi. Resolusi membutuhkan keputusan yang biasanya dipengaruhi dengan keadaan tahun sebelumnya, semisal orang memiliki resolusi untuk berhemat karena di tahun lalu ia merasa sangat boros.

Selain berisikan pengalaman pribadi, harapan semacam ini juga muncul dalam level bernegara. Masyarakat tentu saja memiliki sejumlah kegelisahan dalam bentuk permasalahan sosial. Sejumlah masalah sosial begitu mengakar di tengah masyarakat sehingga terus menuntut perubahan setiap waktunya. Setidaknya ada tiga masalah sosial yang paling pelik, yakni kemiskinan, korupsi, dan intoleransi.

Meskipun ketiga masalah ini sangat penting dan harus segera mendapat perhatian dari pemerintah, setidaknya akan ada sejumlah masalah yang lebih mendapat prioritas. Untuk memahaminya adalah dengan mencari tahu masalah sosial mana yang mendapat perhatian paling banyak dari masyarakat. Dengan begitu dapat dibayangkan skala prioritas resolusi yang harus segera ditemukan pemecahannya.

Untuk merangkum perhatian masyarakat, Netray Media Monitoring melakukan pemantauan terhadap lini masa Twitter selama satu tahun ke belakang. Hasil pemantauan masing-masing masalah sosial akan dikomparasikan satu persatu untuk melihat seberapa besar perhatian warganet terhadap sebuah masalah sosial sehingga resolusi tahun 2021 dapat dimunculkan. Berikut ini adalah hasil statistika sebagai materi dasar proses komparasi.

Statistika Perbincangan Topik ‘Kemiskinan’

Kemiskinan merupakan masalah sosial yang hampir dimiliki semua bangsa di dunia. Masalah ini begitu laten dan akan selalu ada standar tertentu bagi masing-masing pemerintahan untuk mengukur apakah kemiskinan di negaranya sudah membahayakan atau masih dapat dikelola. 

Preview in new tab(opens in a new tab)

Selama satu tahun periode pemantauan, kata kunci kemiskinan hadir dalam 30.429 cuitan dari warganet Twitter. Terdapat 33,9 juta kali interaksi terhadap kata kemiskinan dan secara potensial mencapai 132,2 juta pengguna Twitter berbahasa Indonesia. Apakah jumlah ini terhitung banyak jika dibandingkan dengan yang lain? Simak pantauan untuk kata-kata terkait permasalahan sosial selanjutnya di bawah ini.

Statistika Perbincangan Topik ‘Korupsi’

Permasalahan sosial yang paling pelik bagi masyarakat Indonesia ternyata masih dipegang oleh korupsi. Meski upaya reformasi dua dekade silam adalah untuk menggulingkan rezim yang korup, ternyata pergantian pemerintah tak membuat korupsi hilang dari Indonesia. 

Masyarakat sangat mengharapkan permasalahan korupsi agar bisa diselesaikan, maka dari itu muncul 346.592 kali cuitan yang mengandung kata kunci tersebut. Respon terhadap perbincangan ini juga sangat tinggi, hingga mencapai angka 693,3 juta kali interaksi berupa retweet, reply, maupun like. Dan perbincangan ini diketahui secara potensial bisa melibatkan 392,4 juta akun Twitter.

Statistika Perbincangan Topik ‘Intoleransi’

Intoleransi menjadi permasalahan sosial paling kontemporer di Indonesia. Meski begitu cikal bakal permasalahan ini sudah dipikirkan oleh para founding father bangsa Indonesia. Rumusan Pancasila sudah mengakomodasi gagasan pemecahan masalah ini. Jikalau Indonesia dewasa ini kembali berkubang ke dalam isu intoleransi, secara tersirat terdapat permasalahan yang lebih mendasar, yakni pemahaman Pancasila sebagai falsafah dasar berbangsa dan bernegara.

Kata kunci intoleransi hadir dalam 16.344 kali cuitan warganet. Cuitan tersebut mendapat respon berupa interaksi sebesar 3,2 juta kali dan menjangkau 82 juta akun Twitter secara potensial. Nilai ini tentu paling rendah jika dibandingkan dengan dua permasalahan sosial sebelumnya. Tetapi memiliki kualitas yang sangat fundamental karena berhubungan dengan norma kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pendapat Warganet Terhadap Permasalahan Sosial

Setelah mendapat perbandingan data kuantitas perbincangan warganet, sekiranya perlu studi komparasi ini dapat lebih luas lagi menyajikan problematika sosial di Indonesia dari kacamata warganet. Dengan begitu dapat dibayangkan bagaimana resolusi bangsa Indonesia untuk tahun 2021 berkaca dari permasalahan sosial tersebut. 

Metode yang digunakan adalah dengan mencermati diagram Top Account dan mencomot beberapa cuitan dari akun-akun yang mendapat respon paling banyak dari warganet. Selanjutnya temuan tersebut akan disilangkan dengan kata yang paling banyak muncul dalam periode pemantauan masing-masing permasalahan sosial.

Kemiskinan

Dari pemantauan kata kunci kemiskinan, ditemukan sejumlah kata atau istilah yang paling sering digunakan melalui diagram Word Cloud antara lain pengangguran, rakyat, dan desa. Temuan tersebut merupakan istilah yang paling jamak dihubungkan dengan isu kemiskinan.

permasalahan sosial

Namun, dalam diagram ini juga muncul beberapa kata atau entitas yang unik seperti papua dan corona. Terkesan bagi warganet Twitter bahwa permasalahan kemiskinan di Indonesia tahun ini diperparah oleh pandemi covid-19 serta kritik terhadap upaya pengentasan kemiskinan di Papua.

Sejumlah profil akun besar yang ikut berpendapat dalam perbincangan ini antara lain @agannyi yang membuat meme soal Nia Ramadhani bersama anaknya yang memiliki apapun, kecuali kemiskinan. Termasuk akun @Kejeffreyan dan @ainunrozi, mereka menjadikan isu kemiskinan sebagai lelucon di internet. Tindakan ini secara sosiologis menjadi sangat wajar di Indonesia karena masyarakat sudah sangat sulit keluar dari masalah ini dan akhirnya hanya bisa menertawakannya saja.

Perbincangan yang serius baru muncul dari akun @RamliRizal ketika ia mengkritik penguasa sekarang yang lebih bermental orang miskin dengan korupsi daripada orang miskin itu sendiri. Akun @patipadam juga menyebutkan bahwa selamanya masyarakat akan berada dalam jeratan kemiskinan dan tekanan rezim. Sementara @msaid_didu menyandarkan pendapatnya pada data yang menunjukan bahwa utang pemerintah melangit, kemiskinan meningkat, penegakan hukum yang memprihatinkan, keterpurukan demokrasi, hingga ketimpangan yang semakin melebar.

Korupsi

Isu yang paling banyak mendapat perhatian masyarakat ini membuat akun @ernestprakasa mengungkapkan rasa muaknya terhadap penyebutan korupsi sebagai sebuah musibah yang dialami pelaku. Sama seperti penggunaan istilah digagahi untuk memperhalus kejahatan pemerkosaan.

Akun @msaid_didu bahkan mengarahkan cuitannya pada keberadaan dinasti politik yang ia anggap sudah tidak seperti yang dulu disangkakan. Demikian pula akun @patipadam yang menambahkan sebuah cerita tentang bagaimana tindakan korupsi bisa terjadi. Baginya, koruptor sudah memiliki sebuah sistem untuk menjamin bahwa tak akan ada sosok yang berani menjadi whistle blower atau pelapor pelanggaran. Semua mendapat jatah dari para koruptor.

Cerminan utama mengapa isu korupsi menjadi yang paling penting bagi bangsa ini dapat dilihat dari akun Presiden Joko Widodo yang juga banyak berbicara tentang masalah tersebut. Selain tak akan melindungi siapapun yang terlibat dalam kasus korupsi, pada konteks korupsi bansos oleh Menteri Sosial Juliari Batubara, Presiden juga berharap pejabat negara dapat membangun sistem yang menutup celah praktik korupsi APBN maupun APBD. Beliau sangat mempercayai KPK dalam mengemban tugas mereka. Terakhir, Presiden Joko Widodo ingin mendorong tiga agenda besar pencegahan korupsi yang melibatkan pembenahan regulasi nasional, reformasi birokrasi, dan peningkatan kampanye literasi anti korupsi di tengah masyarakat.

Lantas bagaimana diagram Word Cloud menangkap pembicaraan dalam pemantauan kali ini. Hasilnya terhitung masih sangat dekat. Selain muncul kata bansos dan menteri, PDIP menjadi sasaran empuk warganet kala membicarakan masalah korupsi. Kasus yang menimpa salah satu kadernya ini tentu menjadi tamparan keras bagi partai berlambang banteng tersebut. Tak ayal oposisi begitu gencar menyerang pemerintah dengan membangun narasi bahwa rezim saat ini begitu bobrok dan Indonesia membutuhkan perubahan jika ingin lepas dari jeratan korupsi baik di tahun 2021 hingga seterusnya.

Intoleransi

Terakhir adalah permasalahan sosial intoleransi. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, wacana ini tak banyak mendapat perhatian dari warganet. Berkaca dari pemantauan Netray, kemungkinan karena isu ini sangat kental dengan muatan politis yang direpresentasi oleh cuitan Top Account di bawah ini. Sehingga publik yang lebih luas enggan turut campur.

Sebagai contoh cuitan dari @PutraWadapi yang merasa rezim sudah berlaku tidak adil untuk FPI. Ormas ini dinilai sudah banyak berjasa untuk bangsa dan kemanusiaan, tetapi justru malah dicap sebagai kelompok radikal dan intoleran. Ia menduga pemerintah sebenarnya sedang menutupi permasalahan bangsa yang lebih nyata dengan wacana islamofobia.

Begitu juga dengan pendapat @AzzamIzzulhaq yang menilai bahwa isu radikalisme dan intoleransi ini hanya untuk menutupi kasus korupsi yang terjadi di jajaran pemerintahan. Tetapi ada juga yang menganggap bahwa isu intoleransi seharusnya tidak perlu diselesaikan pada level pimpinan negara tertinggi. Cukup masyarakat sendiri sudah bisa menuntaskannya.

Bagaimanapun seperti yang ada dalam diagram Top Words, masalah intoleransi menjadi wajah utama Islam dalam konteks berbangsa saat ini. Sebagai agama yang paling banyak dipeluk warga negara Indonesia, tirani mayoritas kerap menjadi duri dalam kehidupan sosial berbangsa dan bernegara. Perlu perhatian khusus agar permasalahan ini tidak berkembang menjadi konflik horisontal di dalam masyarakat.

Tahun 2020 telah rampung dan saatnya bangsa Indonesia menapaki tahun 2021. Meskipun permasalahan sosial masih memiliki potensi untuk terus ada, bangsa ini harus tetap optimis menghadapinya dengan belajar dari pengalaman di masa lalu. Masalah korupsi, kemiskinan, dan intoleransi sekiranya akan mendapat upaya pemecahan di tahun ini nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: