Menyoal PSBB Jawa Bali dalam Berita dan Media Sosial

Sekali lagi data tidak bisa berbohong. Setelah musim liburan Natal dan Tahun Baru, kasus penularan Covid-19 meningkat signifikan. Penerapan protokol kesehatan tidak akan pernah efektif jika intensitas interaksi sosial tidak pernah diminimalisir melalui pembatasan sosial (social distancing). Agaknya, alasan ini yang membuat pemerintah kembali menjadwalkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai tanggal 11 Januari hingga 25 Januari 2021.

Sedikit berbeda dengan PSBB sebelumnya, hanya beberapa wilayah yang dinilai pemerintah memiliki kriteria tertentu yang akan menerapkan aturan tersebut. Seperti namanya, kali ini PSBB Jawa Bali akan dilaksanakan di sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Pulau Bali saja. Daerah-daerah tersebut dinilai masih memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi.

Berdasarkan fakta tersebut, Netray Media Monitoring ingin memantau pemberitaan di media massa daring selama periode 3-10 Januari 2021. Dari pemantauan ini, Netray akan mencari tahu sejumlah sudut pandang media mengenai isu pokok dan aktor yang paling banyak diliput oleh media.

Selain itu, Netray juga ingin melihat bagaimana respon warganet Twitter menanggapi penerapan aturan ini. Pemantauan akan dilakukan dengan mencermati agregasi cuitan melalui fitur Issue Report dari Netray. Fitur ini akan mengelompokkan cuitan berdasarkan frekuensi kemunculan kata atau istilah yang sama dari sejumlah cuitan. Jadi bisa dilihat isu apa saja yang menarik bagi warganet untuk dibicarakan.

Isu PSBB Jawa Bali dalam Pemberitaan Media Massa Daring

Apa yang akan diberitakan oleh media massa menjelang hingga selama penerapan PSBB kali ini? Pertanyaan ini adalah yang paling tepat untuk menjadi fundamen kala menganalisis laporan atau pemberitaan yang dibuat oleh media massa daring. Alasannya adalah kebijakan PSBB bukanlah hal yang baru dalam penanganan pandemi. Pemerintah seharusnya sudah sejak lama menerapkan kebijakan ini sebelum angka penularan melonjak drastis.

Kebijakan PSBB bukanlah hal yang baru dalam penanganan pandemi. Pemerintah seharusnya sudah sejak lama menerapkan kebijakan ini sebelum angka penularan melonjak drastis. Sudut pandang ini nampaknya yang sedikit banyak digunakan oleh media massa. Selain memberitakan pendapat sejumlah ahli, media massa juga kerap menulis laporan dengan argumen bahwa penerapan PSBB kali ini adalah buah dari ‘penanganan setengah hati’ dari pemerintah.

Isu pokok kedua dari pemberitaan media massa adalah respon pemerintah daerah setempat lantaran PSBB kali ini diterapkan di wilayah Jawa dan Bali secara spesifik. Tentu saja setiap kepala daerah menerima kebijakan ini, tetapi dengan penyesuaian masing-masing. Tidak banyak konflik vertikal antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang diberitakan oleh media massa. Meskipun konflik semacam ini tetap muncul, minimal tidak menjadi isu yang menyedot perhatian publik.

Media massa daring juga meliput pendapat sejumlah pihak terkait dampak yang dihasilkan oleh kebijakan PSBB Jawa Bali. Salah satu dampak penerapan PSBB yang paling sering dibicarakan adalah ekonomi. Media massa kerap menyoroti sejumlah indikator perekonomian seperti harga saham dan kebutuhan hidup. Bahkan salah satu berita menulis dampak PSBB pada sektor transportasi dengan menunjukan adanya peningkatan permintaan jet pribadi oleh masyarakat Indonesia.

Poin pemantauan pemberitaan yang terakhir adalah untuk mencari tahu siapa figur yang paling banyak disebut media massa. Data ini dapat dengan mudah dilihat dari tabel Top Person. Nama Airlangga Hartarto menempati posisi teratas dalam tabel tersebut sehubungan dengan pengumuman tentang rencana PSBB Jawa Bali yang ia buat sebagai ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN). Setelah Airlangga, terdapat nama Presiden Joko Widodo, Tjahjo Kumolo, dan Ganjar Pranowo.

Respon Warganet dalam Kerangka Agregasi Cuitan

Netray Media Monitoring berhasil merangkum cuitan respon warganet terhadap kebijakan PSBB Jawa Bali ke dalam 9 topik perbincangan. Masing-masing topik berisi sejumlah kata yang kerap muncul dengan kesamaan sentimen. Beberapa kata tertentu mungkin masih muncul pada topik yang berbeda, tetapi mereka mengacu pada konteks yang berbeda pula. Kesembilan topik tersebut bisa dilihat dari tabel di bawah ini.

Sebagai contoh atas proses agregasi cuitan warganet adalah Topik 2, 4, 5, dan 7. Pada Topik 2 terdapat kata Sumatera, Jakarta, dan Madura. Topik ini mengagregasi cuitan yang menyebut kota atau tempat tersebut di dalamnya. Warganet memberikan pendapat mereka tentang situasi tempat mereka di bawah pengaruh PSBB Jawa Bali. Topik 2 memiliki sentimen negatif.

Topik 4 merangkum kata daerah, dibatasi, dan penerapan dengan sentimen positif sedangkan Topik 5 dengan sentimen negatif memiliki kata kunci antara lain Bali, provinsi, dan diperketat. Terdapat cuitan yang isinya meminta pemprov Bali untuk meninjau ulang kebijakan PSBB mereka.

Untuk topik contoh terakhir, yakni Topik 7 muncul kata bantu, perjuangan, dan kesehatan. Sejumlah cuitan dengan sentimen positif di topik ini menyuarakan ajakan untuk membantu para tenaga kesehatan dengan terus mematuhi protokol kesehatan.

Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar yang kembali dicanangkan oleh pemerintah memang terasa sudah sangat terlambat. Meskipun begitu, segala macam upaya untuk memperbaiki kualitas penanganan pandemi tetap harus dilakukan. Media massa yang kritis dan warganet yang tak hentinya mengajak khalayak untuk tetap menjaga diri dan lingkungannya perlu diapresiasi. Sebelum pandemi ini benar-benar melumpuhkan masyarakat dalam skala yang lebih besar lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: