Menilik Zero Waste Sebagai Gaya Hidup Kaum Millenial dan Gen Z

Setiap tahunnya sebanyak 8 ton sampah plastik dibuang ke lautan. Sayangnya hanya 9% dari plastik tersebut yang berakhir menjadi bahan daur ulang. Darurat sampah tidak hanya terjadi disuatu negara melainkan di tiap negara dibelahan dunia. Terlebih Indonesia yang belum memiliki sistem pengelolaan sampah yang baik. Darurat sampah menyebabkan permasalahan yang berkelanjutan. Sampah yang dibuang ke aliran air atau sungai tentu akan menyebabkan pendangkalan atau bahkan penyumbatan. Belum lagi sampah yang berakhir dibuang ke lautan, tentu akan merusak ekosistem.

Penggunaan plastik sekali pakai yang digunakan masyarakat tidak sepadan dengan penanganan dan efek domino yang terjadi terhadap lingkungan. Bahkan daur ulang sebagai solusi yang ditawarkan pun belum sebanding dengan jumlah sampah yang tidak terdaur ulang. Itulah sebabnya gaya hidup Zero Waste belakangan bermunculan dan mulai dipopulerkan oleh para aktivis lingkungan. Bagaimana tanggapan warganet terkait gaya hidup yang belakangan dipopulerkan tersebut. Berikut hasil pantauan Netray.

Sedikitnya terdapat 246 cuitan yang berbicara terkait lingkungan. Zero Waste merupakan gaya hidup bebas sampah atau semua produk dapat digunakan kembali sehingga tidak ada sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Netray memantau perbincangan warganet terkait Zero Waste dimulai pada 01 Februari 2020 s.d 26 Februari 2020. Selama periode tersebut ditemukan sebanyak 246 cuitan dengan didominasi cuitan bersentimen positif.

Perbincangan terkait Zero Waste memuncak pada tanggal 21 Februari s.d 22 Februari 2020. Hal tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada 21 Februari 2020. Terjadinya kerusakan lingkungan akibat sampah plastik menyebabkan sebagian masyarakat mulai menyadari pentingnya menjaga lingkungan. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan membatasi penggunaan plastik sekali pakai atau dengan menerapkan gaya hidup Zero Waste. Zero Waste belakangan semakin dipopulerkan dengan kampanye mengganti kantong plastik sekali pakai dengan tas kain.

Dalam hal ini, pemerintah juga telah menerapkan kebijakan kantong plastik berbayar di setiap pusat perbelanjaan. Hal tersebut guna mengubah gaya hidup masyarakat. Selain itu, sebagian gerai makanan juga sudah tidak lagi menyediakan sedotan plastik. Apabila ingin menggunakan sedotan maka konsumen harus membawa sedotan sendiri. Biasanya sedotan tersebut berbahan dasar stainless atau bambu dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Berdasarkan gambar di atas terlihat beberapa kosa kata populer seperti sampah, gogreen, zero waste. Ketiga kosa kata tersebut juga berkaitan dengan beberapa dinas lingkungan yang berada di DKI Jakarta yang memiliki pasukan orange yang bertugas menjaga kebersihan lingkungan Ibu Kota.

Untuk dapat mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat memang diperlukan keterlibatan pemerintah. Dalam hal ini pemerintah berperan aktif untuk dapat menekan industri dengan membuat peraturan yang ramah lingkungan. Pemerintah dapat membuat kebijakan untuk mengkontrol desain produk, kemasan, dan penentuan bahan yang digunakan.

Memulai gaya hidup Zero Waste tentu harus dimulai dari diri sendiri. Hal tersebut dapat dimulai dengan mengganti penggunaan plastik sekali pakai dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Metode zero waste adalah 5R, yaitu Refuse (menolak), Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Recycle (mendaur ulang) dan Rot (membusukkan sampah). Metode tersebut menjadi pegangan untuk membentuk gaya hidup tanpa sampah dan menggunakan sumber daya alam secara bijaksana.

Selain 5R, langkah kecil untuk dapat memulai Zero Waste dapat dilakukan dengan beberapa langkah berikut.

  1. Memanfaatkan kembali barang yang tidak dipakai
  2. Mulai memilah sampah organik dan anorganik
  3. Membeli makanan secukupnya
  4. Think before you buy it

Keempat langkah diatas dapat mulai diterapkan sebagai wujud nyata kita menyanyangi bumi. Merawat bumi memang menjadi kewajiban bagi setiap manusia. Perilaku manusia modern dan urban kerap menyisakan permasalahan yang buruk terhadap lingkungan. Mulai dari daya beli yang meningkat hingga perilaku konsumtif.

Menerapkan gaya hidup Zero Waste menjadi salah satu upaya untuk kita sadari bahwa apa yang kita konsumsi berdampak pada lingkungan. Sudah selayaknya dan sepatutnya kita merawat Bumi yang menjadi tempat kita tinggal. Terlebih kaum muda yang harus lebih bersemangat dan memiliki kesadaran yang tinggi untuk dapat merawat lingkungan guna keberlangsungan hidup yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: