Menelisik Alasan di Balik Ramainya Kritik Film Selesai

Sejak rilis pada 13 Agustus 2021, film Selesai yang disutradarai oleh Tompi menjadi perbincangan hangat di media sosial. Film yang ditulis oleh Imam Darto ini dibintangi oleh Ariel Tatum, Gading Marten, dan Anya Geraldine sebagai pemeran utama. Selain menyuguhkan konflik perselingkuhan, film ini juga turut membawa isu kesehatan mental. Beragam ulasan, baik yang disampaikan secara pribadi maupun dalam bentuk diskusi film membanjiri linimasa Twitter beberapa waktu terakhir. Sambutan hangat dan kritik pedas terhadap film ini ramai-ramai dibagikan sehingga topik ini menduduki trending topik pada 20 Agustus lalu.

Media Monitoring Netray pun tertarik untuk menelisik alasan di balik ramainya perbincangan film Selesai; mengapa film ini begitu menyedot animo publik? Apa saja poin yang paling banyak dikritisi warganet? Simak ulasannya berikut.

Sinopsis Film Selesai

Film ini dimulai dengan konflik perselingkuhan antara Broto (Gading Marteen) dan Anya (Anya Geraldine) yang membuat Ayu (Ariel Tatum) ingin memutuskan untuk bercerai dengan Broto. Karena ibu Broto, Sriwedari Hadisutejo (Marini) memutuskan untuk menginap di rumah mereka, Ayu dan Broto terpaksa mengurungkan niatnya dan berpura-pura tetap baik-baik saja. Selama menginap, Sri berusaha menyelidiki masalah yang tengah dialami anak-menantunya dengan bantuan si pembantu, Yani (Tika Panggabean).

Perbincangan Film Selesai di Twitter

Film Selesai tayang di Bioskop Online pada 13 Agustus 2021. Namun, perbincangan terkait topik ini dapat dikatakan sepi pada 5 hari pertama penayangan. Pembahasan mulai merangkak naik pada 18 Agustus dengan sentimen negatif yang dominan hingga memuncak pada 20 Agustus 2021. Mengapa demikian?

peak time film selesai

Pada 18 Agustus film ini mulai mendapat perhatian publik karena sejumlah warganet turut membagikan ulasan dan mengajak warganet lainnya untuk menonton. Kritik dan sambutan hangat masih terlihat imbang pada periode ini.

Diskusi Film di Space dan Naiknya Rasa Penasaran Publik

Kontras muatan sentimen negatif terlihat tinggi pada 20 Agustus hingga terekam dalam deretan trending topik Twitter pada tanggal tersebut. Hal ini terjadi setelah malam sebelumnya (19/8) sekumpulan warganet membahas film ini di Space Twitter. Sontak warganet yang belum menonton film ini pun tertarik untuk membuktikan sejumlah fakta dan kritik film yang dibahas dalam Space tersebut. Lalu apa saja poin-poin yang dikritisi warganet?

Ending Plot Twist yang Dipaksakan

Seperti yang disinggung di awal, film ini membawa beberapa isu seperti perselingkuhan dan kesehatan mental. Tanpa basa-basi, konflik perselingkuhan telah diperlihatkan sejak awal film dan menjadi pondasi konflik hingga akhir. Sementara isu kesehatan mental mulai muncul di seperempat jelang akhir film yang perlahan-lahan mengungkap gangguan mental yang diderita Ayu. Puncaknya adalah scene Ayu di rumah sakit jiwa yang menegaskan hal tersebut. Namun, konflik perselingkuhan yang sejak awal dibangun justru semakin kabur dan tidak ada penyelesaian. Justru sosok Ayu yang harus menerima nasib buruk, sementara Gading yang secara moral melakukan kesalahan sejak awal, berselingkuh justru tidak mendapat penghakiman sama sekali hingga akhir.

Hal tersebut membuat warganet kecewa. Film ini dinilai warganet seolah menyudutkan perempuan. Ending yang tidak tertebak atau plot twist dinilai sebagian warganet terlalu memaksakan. Bahkan warganet juga merasa isu yang hendak disampaikan dalam film ini tidak tereksekusi dengan baik.

Selain soal ending, warganet juga menyoroti porsi Tika dan Bambang yang merupakan asisten rumah tangga dan kekasihnya yang dinilai berlebihan. Pasalnya, tak hanya berpusat pada rumah tangga Ayu-Broto, film ini juga mengekspos percintaan Tika-Bambang yang menurut warganet tidak begitu penting. Unsur komedi yang coba diselipkan di sini juga dianggap memaksakan.

Sinematografi; Color Grading dan Audio

Kritik warganet tak hanya soal naskah dan penyampain cerita tetapi juga pada sinematografi film. Warganet merasa terganggu dengan color grading yang dominan warna kuning hangat karena mengesankan pada film-film horor. Audio yang tidak stabil juga mendapat bagian untuk dikomentari warganet.

Dianggap Seksis dan Patriarkat

Tak hanya filmnya, Tompi yang merupakan sutradara film ini juga menjadi bulan-bulanan warganet karena pernyataannya dalam menanggapi kritik publik soal filmya yang dinilai arogan. Warganet juga kecewa dengan pernyataan tompi yang merasa tidak perlu melibatkan perempuan dalam pembuatan film tersebut. Padahal menurut warganet film ini membahas tentang perempuan. Tak ayal, komentar yang menilai Tompi sebagai sosok yang seksis dan penganut paham patriarki bermunculan.

Apresiasi Terhadap Film Selesai

Meski demikian, tidak sedikit warganet yang mengapresiasi film kolaborasi Tompi-Darto ini. Salah satu yang paling banyak dibicarakan adalah soal akting Ariel Tatum dan Gading Marten yang dinilai bagus.

Berbeda dari warganet yang mengkritisi film ini, warganet yang menikmati film ini merasa apa yang disajikan Tompi dan Darto sukses menghibur dan memberi pengalaman yang unik. Warganet mengapresiasi produksi film yang hanya menggunakan 7 pemain namun berhasil memikat hati penonton. Menanggapi komentar soal pesan yang gagal disampaikan Tompi dari kubu kontra, warganet mejawab bahwa tidak semua film harus memenuhi ekspektasi penonton, memihak tokoh tertentu, atau menyampaikan pesan moral yang baik.

Promosi yang Sukses dan Bangkitnya Debat Perfilman

Film Selesai yang dibicarakan lebih dari 8 ribu tweet oleh 4 ribu akun Twitter selama dua minggu sejak penayangan ini membuktikan bahwa debat perfilman Indonesia masih hidup. Tak hanya dibicarakan dalam diskusi film oleh para pengamat film, Selesai juga dibicarakan dengan meriah oleh warganet awam secara umum. Meski sentimen negatif mendominasi percakapan warganet terkait topik ini, setidaknya kita dapat melihat bahwa masyarakat masih memiliki jiwa yang kritis dan apresiatif terhadap perfilman karya anak bangsa.

Sementara di sisi lain, ramainya diskusi soal film ini secara tidak langsung membawa keuntungan bagi Tompi dan kawan-kawan. Bagaimana tidak? Terlepas baik buruknya komentar warganet terhadap film ini, semakin banyak dibicarakan semakin banyak orang tahu dan penasaran dengan film ini. Demikian ulasan Media Monitoring Netray. Semoga diskusi perfilman Indonesia tidak pernah mati sehingga semakin banyak karya-karya berkualitas di masa mendatang.

Simak hasil analisis Netray lainnya di blog.netray.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: