Melihat Perbincangan Warganet Seputar Vaksin Dalam Beberapa Waktu Belakangan

Tanpa terasa saat ini setahun sudah masa pandemi berlangsung. Wabah yang menyebar luas ke berbagai belahan dunia ini berimbas pada multisektor. Tidak hanya itu, setiap harinya jumlah kasus terus bertambah dengan jumlah kematian yang terbilang tidak sedikit. Saat ini proses vaksinasi di Indonesia tengah berjalanan. Vaksin merupakan bibit penyakit yang telah dilemahkan dan dapat digunakan sebagai vaksinasi sebuah virus. Vaksin ini diharap dapat memperkuat imun tubuh agar tidak lagi terserang Covid-19 sehingga aktivitas masyarakat pun dapat berangsur pulih. Lalu seperti apakah hasil dari pantauan Netray? Simak selengkapnya.

vaksin

Netray memantau perbincangan warganet terkait vaksin di media sosial Twitter sejak 08 Maret 2021 sampai dengan 22 Maret 2021. Terlihat impresi warganet terhadap topik ini mencapai 849.4M dengan jangkauan mencapai 452M. Apabila diamati melalui jumlah tersebut menunjukkan topik terkait vaksin ramai menjadi perbincangan warganet. Dengan jumlah yang terbilang besar tersebut apa saja kah yang menjadi perbincangan warganet?

Berdasarkan grafik di atas terlihat total cuitan terkait topik ini mencapai 367K dengan didominasi oleh cuitan bersentimen negatif. Sementara itu, intensitas perbincangan tampak muncul setiap harinya selama periode pemantauan. Namun, mengapa cuitan tersebut didominasi bersentimen negatif?

Polemik Vaksin Astrazeneca, dari Pembekuan Darah hingga Mengandung Unsur Babi?

Salah satu vaksin yang akan digunakan di Indonesia untuk menyetop penyebaran Covid-19, yaitu dengan menggunakan vaksin Astrazenecca. Namun sayangnya, vaksin ini masih diragukan oleh sebagian pihak dan menuai polemik. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, seperti halnya isu menyebabkan pembekuan darah hingga kandungannya yang masih diragukan. Hal ini kemudian menyebabkan berbagai perbincangan terkait vaksin ini mencuat di Twitter.

Salah satu alasan mengapa warganet ragu dengan vaksin ini ialah ditemukannya kasus pembekuan darah. Disebutkan pembekuan ini terjadi pada perempuan berusia di bawah 55 tahun. Namun, Badan Obat-obatan Eropa Eureopean Medicines Agency (EMA) memastikan manfaat vaksin ini lebih besar dibanding risikonya. Terlebih kemungkinan terjadi pembekuan sangat langka, hanya ditemukan 25 kasus dari 20 juta vaksinasi di Eropa. Bahkan Direktur Eksekutif EMA, Emer Cooke menyatakan vaksin AstraZeneca aman dan efektif digunakan. Lalu bagaimanakah perbincangan warganet terkait topik ini?

Terlihat pada 12 Maret 2021 akun @tempodotco mengunggah cuitan terkait kabar Norwegia dan Denmark yang menunda penggunaan vaksin AstraZeneca. Namun, berbeda halnya dengan Thailand yang melanjutkan penggunaan vaksin tersebut dengan Perdana Menterinya menjadi orang pertama yang disuntikan vaksin tersebut. Seperti halnya negara di Eropa, India pun ikut mengkaji ulang terkait keamanan AstraZeneca. Meski demikian, EMA telah membuktikan keamanan dan meyakinkan masyarakat dunia untuk menggunakan vaksin yang berasal dari Inggris ini. Selain faktor keamanan, keresahan warganet lainnya yakni berkembangnya isu terkait unsur babi yang dikabarkan terdapat dalam kandungan AstraZeneca.

Polemik kandungan haram dalam vaksin AstraZeneca nampaknya kian mencuat dan menjadi perbincangan publik. Hal ini didukung oleh pernyataan Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI. Lembaga tersebut menyatakan terdapat kandungan tripsin dari babi. Hal ini pun kemudian menuai polemik di kalangan masyarakat muslim yang kemudian menimbulkan penolakan penggunaan vaksin tersebut. Berbeda halnya dengan MUI pusat, MUI Jatim justru menyatakan vaksin ini Halal dan Tayyib, seperti halnya disampaikan oleh Presiden Joko Widodo. sebagai berikut.

Pihak AstraZeneca pun membantah isu yang berkembang tersebut, pihak AstraZeneca juga menegaskan bahwa dalam proses produksinya vaksin vektor virus ini tidak menggunakan dan bersentuhan dengan produk turunan babi atau produk hewani lainnya. Mereka juga menegaskan bahwa vaksin ini bahkan telah digunakan lebih dari 70 negara muslim lainnya, seperti Arab Saudi, UEA, Kuwait, Bahrain, Oman, Mesir, Aljazair, dan Maroko dan banyak Dewan Islam di seluruh dunia telah menyatakan sikap bahwa vaksin diperbolehkan untuk para muslim.

Terlihat Presiden Joko Widodo melalui akun Twitternya @jokowi mengkonfirmasi terkait hukum dari penggunaan vaksin yang banyak diragukan masyarakat ini. Sayangnya polemik ini justru memunculkan isu lainnya yang berkaitan dengan unsur politik dan berhembus kabar dalam upaya mengeluarkan fatwa halal vaksin AstraZeneca pengurus MUI disebut meminta posisi komisaris BUMN. Hal ini pun mengundang perhatian publik dan langsung dibatan oleh Stafsus Menteri BUMN, Arya Sinulingga. Ia menyampaikan hal tersebut tidak benar dan fitnah. Meski dikabarkan mengandung unsur haram, penggunaan vaksin AstraZeneca telah disepakati untuk tetap boleh digunakan. Hal ini dikarenakan keadaan darurat dan demi keselamatan seluruh masyarakat sehingga dalam keadaan mendesak seperti saat ini vaksin ini boleh digunakan.

Isu Berakhirnya Masa Penggunaan Vaksin Sinovac dan AstraZeneca

Sementara itu, selain perbincangan terkait polemik penggunaan vaksin AstraZeneca warganet juga ramai memperbincangkan terkait berakhirnya masa penggunakan vaksin Sinovac dan AstraZenica. Akibat kabar yang berhembus tersebut sebagian warganet pun khawatir jika vaksin yang digunakan tersebut akan kadaluarsa sebelum sempat digunakan.

Beredarnya isu tersebut pun langsung mendapat tanggapan dari Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi, ia menjelaskan bahwa vaksin yang akan kadaluarsa merupakan vaksin CoronaVac (produksi Sinovac) yang telah digunakan untuk para Nakes dan orang pelayan publik. Vaksin tersebut pun telah habis digunakan, sementara itu vaksin Sinovac yang berasal dari China tersebut memiliki masa kadaluarsa 2 tahun.

Top Kategori Seputar Vaksin

Pada kategori populer topik ini Top Accounts dan Top People diduduki oleh Presiden Joko Widodo. Selaku Presiden RI tak heran namanya menjadi populer dan banyak ditandai dalam cuitan warganet yang membicarakan seputar proses vaksinasi di Indonesia.

Sementara itu, pada kategori Top Organizations terlihat Kemenkes dan WHO tampak dalam top kategori tersebut. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh perbincangan seputar vaksin yang melibatkan organisasi kesehatan, baik nasional maupun internasional. Selain itu, pada kategori Top Complaints terlihat ‘Padahal Tidak Mengandung Babi‘ muncul sebagai top complaints. Hal ini berkaitan dengan polemik dan isu yang berkembang terkait kandungan babi yang dikabarkan terdapat dalam vaksin AstraZeneca.

Perbincangan terkait vaksin pada periode pemantauan Netray kali ini didominasi oleh perbincangan seputar vaksin AstraZeneca dan Sinovac. Adapun topik perbincangan terkait kedua vaksin tersebut, yakni pembekuan darah akibat vaksin AstraZeneca, hukum penggunaan vaksin AstraZeneca, hingga masa kadaluarsa vaksin tersebut. Beredarnya kabar kandungan AstraZeneca yang dinilai mengandung unsur haram membuat masyarakat resah akan penggunaan vaksin tersebut. Meski demikian MUI telah mengeluarkan fatwa terkait hukum penggunaannya di masa terdesak seperti saat ini, yakni diperbolehkannya penggunaan vaksin tersebut demi keamanan dan keselamatan umat.

Demikian hasil pantauan Netray, simak hasil analisis lainnya melalui https://blog.netray.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: