Kontroversi Aksi Sujud Bu Risma, Cerminan Pemimpin Perempuan di Tengah Pandemi?

Sebuah video amatir menunjukan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini atau biasa dipanggil Bu Risma bersujud meminta maaf sembari menangis di hadapan sejumlah dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Ia meminta maaf setelah salah satu pengurus IDI Surabaya memaparkan penyebab kematian pasien COVID-19 di Surabaya yang tinggi.

Pantauan Media

Aksi sujud Bu Risma mendatangkan sejumlah kontroversi yang dibingkai melalui pemberitaan media. Para pencari berita terbagi menjadi dua kubu yakni mereka yang memandang aksi tersebut sebagai hal yang positif. Namun, tak sedikit pula yang melihatnya tak pantas. Dari pantauan Netray atas pemberitaan media massa terkait aksi Wali Kota Surabaya ini, mulai tanggal 28 Juni hingga 4 Juli yang lalu terdapat 155 berita yang dikeluarkan oleh 45 portal media massa.

Pada hari peristiwa, 29 Juni 2020, terdapat 20 pemberitaan positif dan 28 berita dengan sentimen negatif. Esoknya jumlah negatif meningkat tetapi sentimen positif turun.

Aksi sujud Risma ini mempengaruhi persepsi media massa secara umum kepadanya. Sebelum peristiwa tersebut terjadi, sentimen terhadap Wali Kota Surabaya ini cenderung mengarah ke positif. Dari pantauan Netray sejak awal bulan Juni 2020 hingga sehari sebelum peristiwa, pemberitaan dengan sentimen positif sangat mendominasi.

Hal ini menunjukan bahwa kepemerintahan Tri Rismaharini di Surabaya selama ini mendapat dukungan dari media massa atas prestasi-prestasinya. Namun momentun ini berbalik ketika Surabaya dianggap keteteran mengatasi pandemi virus covid-19.

Selama sebulan terakhir, pemberitaan terkait penanganan pandemi oleh Pemda terfokus pada dua lokasi titik panas yakni DKI Jakarta dan Jawa Timur

Secara garis besar pemberitaan di media massa masih mengapresiasi langkah-langkah pemerintah dalam menangani pandemi. Hanya saja mendekati akhir bulan, sentimen kembali berubah ke arah negatif dengan banyaknya kasus penanganan covid-19 yang tidak segera menampakkan hasil.

Terlihat dari grafik di atas bahwa tanggal 29 Juni ketika Presiden Joko Widodo marah terhadap kabinetnya, pemberitaan terkait penanganan pandemi covid-19 berayun ke arah negatif. Berikut adalah contoh-contoh berita yang didapatkan oleh Netray.

Di tengah memburuknya kinerja pemerintah dalam menangani pandemi ini lah aksi sujud di hadapan dokter IDI Surabaya menyeruak. Seakan menjadi gong bahwa penanganan pandemi yang selama ini dijalankan tak begitu efektif jalannya.

Warganet Twitter Berbicara
Lantas bagaimana tanggapan warganet terhadap aksi sujud Bu Risma ini? Dari pantauan Netray, kata kunci Risma sujud menghasilkan 12 ribu cuitan dengan jangkauan hingga 41 juta selama 5 hari pemantauan sejak 29 Juni 2020.

Warganet pun memiliki pandangan yang sama seperti media massa di Indonesia. Sentimen negatif cenderung mendominasi perbincangan kala melihat aksi sujud tersebut. Salah satu cuitan yang mendapat respon cukup tinggi berasal dari akun @RomitsuT. Ia menduga bahwa apa yang dilakukan Bu Risma ini adalah sebuah drama rekayasa semata.

Menariknya, Bu Risma sebagai aktor bukanlah satu-satunya yang mendapat kecaman dari publik. Dari data yang dihimpun oleh Netray, latar belakang Tri Rismaharini sebagai kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) juga menjadi sasaran. Warganet melihat ada kesamaan watak dari partai berlambang banteng ini. Sehingga impresi negatif pun mengarah ke kader partai lain seperti Puan Maharani, bahkan hingga Presiden Joko Widodo pun tak luput.

Meski tak lagi merepresentasi partai ketika seorang politisi menjadi pejabat publik, masyarakat Indonesia melihat partai saat ini seperti sebuah ideologi. Partai bukanlah organisasi politik tempat agregasi kepentingan masyarakat, tetapi sebuah mentalitas yang menaungi kader-kadernya.

Pemimpin Perempuan
Dinamika pemimpin perempuan juga menjadi obrolan yang cukup hangat di kalangan warganet karena dipicu aksi sujud Bu Risma. Di tengah berkembangnya berita kesuksesan pemimpin perempuan di luar negeri, mau tidak mau aksi sujud ini ikut mendapat perhatian. Sebagian besar masih memandang bahwa aksi sujud ini adalah contoh bagaimana perempuan siap mencurahkan segala emosinya ketika memimpin. Meski tak sedikit pula yang justru berbalik melihat hal tersebut sebagai kelemahan pemimpin perempuan.

Berikut tadi dinamika yang berhasil ditangkap Netray terkait aksi sujud Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Baik framing media maupun komentar warganet cenderung melihat hal ini sebagai suatu aksi yang memiliki intonasi negatif. Meski tak sedikit pula yang mengapresiasinya. Netray juga berhasil melihat hubungan antara aktor dengan lingkungan di sekitarnya yang menunjukan tak ada aktor politik yang berdiri sendiri. Latar belakang aktor juga menjadi fokus penilaian dari masyarakat serta media massa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: