Kelahiran Kembali Partai Masyumi dalam Bingkai Pemberitaan Media Massa

partai masyumi

Kendati kepercayaan masyarakat terhadap kinerja partai politik semakin menurun menurut sejumlah survei, beberapa pihak masih berusaha untuk mendaulat kekuasaan dengan turut berpartisipasi dalam proses demokrasi elektoral. Berbekal alasan ini, Partai Masyumi didirikan kembali, termasuk sejumlah partai baru lainnya.

Terkait mengapa disebut sebagai “didirikan kembali”, pembaca mungkin bisa membaca kembali sejarah kepartaian di Indonesia. Akan tetapi, pendirian kembali Partai Masyumi seakan membuktikan gairah baru yang sebenarnya tak asing dalam peta politik Indonesia, yakni postulat kekuatan politik Islam.

Dengan orkestrasi kekuatan massa pendukung ideologi Islam beberapa waktu belakangan, melalui aksi 212 dan sejenisnya, keinginan untuk mengkapitalisasi kekuatan ini menjadi kursi di parlemen tentu sangat sulit untuk ditolak. Dan Partai Masyumi menjadi salah satu wadah terkini untuk menampung kekuatan tersebut.

Lantas bagaimana proyeksi politik ini mendapatkan pemberitaan oleh media massa nasional? Untuk menjawab pertanyaan ini, Netray Media Monitoring melakukan pemantauan terhadap laporan portal berita online sejak awal bulan. Dan hasilnya bisa dicermati pada pemaparan berikut.

Peta Politik Partai Masyumi Kontemporer

Hasil Pemantauan Netray menunjukan bahwa wacana pendirian kembali Partai Masyumi mulai bergulir sejak tanggal 6 November 2020. Hanya ditemukan 4 pemberitaan pada tanggal tersebut. Namun sehari setelahnya, laporan media massa yang mengandung kata kunci meledak jumlahnya. Situasi ini berlanjut hingga kuantitas pemberitaan berkurang mulai tanggal 12 November.

Selama periode awal, sejumlah wacana menjadi perspektif pemberitaan terkait deklarasi berdirinya Partai Masyumi. Seperti hubungan organisasional dan kultural Partai Masyumi dengan gerakan KAMI. Banyak pihak yang menilai, partai ini adalah transformasi formal dari gerakan KAMI. Meskipun hal tersebut dibantah oleh internal partai sendiri.

Selanjutnya adalah potensi nama besar untuk bergabung ke dalam partai yang sekarang berusia 75 tahun ini. Selain Amien Rais yang siap membubarkan partainya, Partai Ummat, yang juga baru seumur jagung jika Partai Masyumi tampil lebih baik, ajakan juga dialamatkan ke Abdul Somad atau yang kerap disapa UAS.

Dan tentu saja, kekuatan Islam paling agresif saat ini, Rizieq Shihab menjadi salah satu sosok yang digadang-gadang bergabung dengan Partai Masyumi. Upaya ini justru menunjukan situasi bahwa politik Islam pada dasarnya terfragmentasi sedemikian rupa hingga melahirkan kontestasi di antaranya.

Respon Kekuatan Politik Islam Tradisional

Media massa semakin gencar kala membeberkan bagaimana peta kekuatan politik Islam saat ini. Partai Masyumi bukan sekali ini dicoba untuk didirikan, pada Pemilu 1999 sudah ada upaya serupa namun gagal. Padahal masyarakat Indonesia mayoritas muslim. Tapi kekuatan ini sudah terlebih dahulu terpecah-pecah ke dalam sejumlah partai Islam yang lebih dulu eksis.

Meski memiliki nama besar, Partai Masyumi yang saat ini tentu masih lemah dalam hal pondasi organisasional dan mesin partai. Padahal dua hal ini merupakan prasyarat dasar agar partai bisa diterima oleh masyarakat sehingga mampu berkontestasi dalam pemilihan umum mendatang.

Kekuatan Islam tradisional dan kepartaian seperti NU, Muhammadiyah, PPP, PKB, hingga PKS menganggap bahwa Partai Masyumi belum menjadi tantangan bagi mereka untuk saat ini. Bahkan PKS yang dianggap memiliki corak konstituen yang sama dengan Partai Masyumi, yakni kelas menengah konservatif, tidak merasa tersaingi seperti yang diungkapkan salah satu elit partai mereka Hidayat Nur Wahid.

Sejarah Partai Masyumi

Bagaimanapun Partai Masyumi memang memiliki jejak sejarah yang panjang dalam republik ini. Ia merupakan partai yang memanfaatkan kekuatan massa Islam pertama sampai akhirnya bubar pada tahun 1960 menyusul pemberontakan Permesta. Dengan latar belakang ini, media massa merasa perlu kembali menginformasikan ke masyarakat tentang sejarah Partai Masyumi.

Peluang memang tetap ada, tinggal bagaimana anggota partai ini dapat mengarahkan haluan mereka pada konstituen Islam yang majemuk. Apakah mereka akan tetap mengandalkan kekuatan populis konservatif seperti yang selama ini orang bicarakan. Orkestrasi pengerahan massa yang dilakukan Rizieq Shihab tentu dianggap menggiurkan bagi beberapa pihak.

Potensi Pemberitaan di Masa Depan

Momentum ini memang tak cukup banyak diperhatikan oleh publik. Mengingat subyek yang sama sedang dalam pemberitaan yang lain terkait pelanggaran protokol kesehatan. Sedangkan dalam ranah demokrasi elektoral, perhatian masih terhisap ke dalam pusara pilkada. Termasuk juga bagaimana pemerintah menjaga penyebaran wabah Covid-19 pada level minimum.

Sehingga sejak awal bulan, dalam periode pemantauan, hanya ditemukan 359 pemberitaan terkait Partai Masyumi. Dan laporan ini diterbitkan oleh 55 portal berita daring nasional. CNN menjadi portal berita yang paling banyak menerbitkan laporan. Disusul oleh Kompas dan Sindonews.

Kondisi ini tentu akan berubah berjalannya waktu. Terutama ketika nanti menjelang pemilu 2024. Masih sangat mungkin Partai Masyumi akan menjadi headliners jika manuver-manuver mereka nanti dapat mendatangkan dampak yang besar bagi peta politik Indonesia, khususnya kekuatan Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: