Geger Pemakzulan Bupati Jember, Siapa Saja yang Meramaikan?

Situasi politik di Kabupaten Jember memberi warna baru bagi demokrasi di Indonesia. Meski sebelumnya sudah pernah ada upaya pemakzulan terhadap pemimpin daerah, Bupati Faida menjadi kaum perempuan pertama yang tak lagi dipercaya kapasitasnya dalam memimpin oleh lembaga legislatif.

Keputusan pemakzulan ini diberikan pada tanggal 22 Juli 2020 oleh DPRD Kabupaten Jember melalui sidang paripurna. Tujuh fraksi yang melakukan sidang menganggap Bupati Faida telah melanggar sumpah jabatan dan melanggar sejumlah undang-undang.

Kontan, keputusan ini menjadi magnet pemberitaan bagi media massa. Netray melacak bahwa sejak tanggal pengumuman hingga 29 Juli 2020, terdapat 542 berita yang berhubungan dengan kata kunci bupati, faida, jember, dprd, dan pemakzulan. Berita-berita ini ditulis oleh 62 media yang berbeda.

Diseminasi Wacana Pemakzulan

Pada awal bulan, media massa tidak banyak membahas kerja dari pemerintahan Kabupaten Jember. Media baru aktif sejak isu rapat paripurna tersebut berhembus hingga tanggal diumumkannya keputusan pemakzulan. Puncaknya berada pada tanggal 23 Juli 2020 yakni terdapat 147 artikel untuk semua sentimen (gbr 3).

Jumlah ini berbanding jauh dengan sehari sebelumnya, sebanyak 28 artikel, ketika sidang paripurna tersebut sedang dilaksanakan. Hal ini karena sidang berlangsung hingga sore hari. Tercatat Kompas dan Kumparan menjadi media perdana yang pada hari itu menulis tentang keputusan pemakzulan, yakni sekitar pukul 6 petang (gbr 4).

Persebaran Sentimen

Isu pemakzulan ini tentu memberi preseden yang buruk bagi nama sang bupati. Hal ini dibuktikan dengan jumlah berita dengan sentimen negatif yang berjumlah lebih banyak jika dibandingkan dengan ulasan pers bersentimen positif.

Sejak awal bulan, Netray mendapati 267 total berita bernada negatif untuk dr. Hj. Faida, MMR. Tentu saja sebagian besar sentimen negatif muncul selama isu pemakzulan beredar. Pada tanggal 23 Juli terdapat 86 berita bersentimen negatif berbanding 27 berita dengan sentimen positif.

Sentimen positif bagi Bupati Faida muncul saat jurnalis media massa mencoba mengkonfrontir persoalan ini ke Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Secara diplomatis Khofifah tidak memihak pada salah satu pihak dan menyerahkan masalah ini kembali ke mekanisme undang-undang.

Bagaimanapun juga, Mahkamah Agung yang memiliki hak untuk menyelesaikan masalah ini. Mereka yang akan menilik ulang apakah yang diajukan DPRD sesuai dengan fakta atau hanya sangkaan belaka. Sentimen positif juga dihembuskan ahli hukum Universitas Airlangga, Suparto Wijoyo yang menilai masih ada waktu bagi Bupati Jember, Faida untuk menjalin komunikasi politik dengan seluruh anggota DPRD Jember terkait langkah pemakzulan tersebut.

Namun ada beberapa keganjilan dalam diagram sentimen pada gambar 5. Yakni sebelum tanggal 23 Juli, sudah muncul pemberitaan bersentimen negatif terhadap Bupati Faida. Kemungkinan besar memang masih berhubungan dengan isu pemakzulan.

Tetapi setelah ditilik lebih dalam lagi, ternyata nama Bupati tercatut di dalam kasus yang sama sekali tidak ada relevansi dengan politik pemerintahan daerah. Ia muncul dalam kasus penipuan yang menempatkan selebritis Anang Hermansyah dan Ashanty sebagai korban. Itulah mengapa dalam words cloud muncul entitas tersebut.

Meski tidak ada relevansinya, sentimen negatif tetap akan mempengaruhi persepsi publik terhadap sosok politisi. Itulah mengapa dalam praktik politik di luar negeri sekarang, khususnya Amerika Serikat, citra seorang politisi harus benar-benar dijaga jika ia masih ingin berkarir. Mereka tak segan untuk membayar jasa konsultan politik untuk menjaga agar publik tidak mendapatkan persepsi yang “salah” terhadapnya.

Tanggapan Warganet

Lantas bagaimana sikap warganet, terutama yang berasal dari wilayah Jember terkait isu yang menimpa pemimpin mereka? Dari pemantauan dalam rentang waktu yang sama, Netray menemukan bahwa setidaknya ada 965 cuitan yang mengandung kata kunci di atas.

Cuitan-cuitan ini mendapat respon dari warganet sebanyak lebih dari 15,3 ribu dan dapat mencapai audiens sebesar 79,5 juta akun.

Tetapi jika merujuk pada gambar 14, terlihat bahwa gap justru tidak terjadi di antara cuitan dengan sentimen negatif dan positif. Selama dua hari, yakni 23 dan 24, cuitan bernada netral jauh mendominasi keriuhan publik terkait isu pemakzulan Bupati Jember. Mengapa bisa demikian?

Alasannya adalah cuitan tersebut senyatanya bukanlah pendapat warganet. Keunggulan sentimen netral ini Netray temukan berdasar atas cuitan yang dilakukan oleh portal berita atau media massa sebagai bagian dari sosial media campaign mereka. Sehingga cuitan semacam ini bisa dibilang tak menghasilkan muatan sentimen. Berbeda dengan cuitan yang dihasilkan oleh warganet.

Ikhtisar Pemakzulan Bupati Faida

Isu pemakzulan atas Bupati Faida yang dilakukan oleh DPRD Kabupaten Jember membawa konteks politik lokal ini menjadi perbincangan nasional. Karena tergolong unik ketika pemakzulan dilakukan kepada bupati perempuan pertama kalinya, isu ini banyak disorot media dan memberikan sentimen negatif terhadap sosok dr. Faida.

Meski begitu, warganet termasuk yang berasal dari Kabupaten Jember, tidak begitu terusik dengan persoalan ini. Terbukti cuitan yang ditemukan Netray lebih banyak dilakukan oleh media massa ketimbang masyarakat secara umum. Hal ini bisa berarti banyak hal, semisal keterputusan antara yang terjadi di pemerintahan dengan rakyatnya atau isu ini tidak mendapat momentum sehingga nir dukungan warga. Apapun itu, menarik untuk didiskusikan lebih lanjut.

Tabik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: