BerandaGaya HidupFenomena "Cuddle" di Kalangan Warganet Twitter, Kebutuhan Afeksi dan Jasa Layanan Ilegal

Fenomena “Cuddle” di Kalangan Warganet Twitter, Kebutuhan Afeksi dan Jasa Layanan Ilegal

Published on

Manusia tak hanya butuh makan untuk bertahan hidup. Agar tetap waras dalam menjalaninya kebutuhan afeksi juga harus dipenuhi. Mendapatkan perhatian, kepedulian, dan kasih sayang dari orang yang memiliki hubungan dekat, menjadi cara yang cukup umum untuk memenuhi kebutuhan ini.  Apabila selama ini afeksi kerap diasosiasikan dengan relasi antara orang tua dan anak, sejatinya kebutuhan afeksi dapat ditemukan di semua lapisan umur.

Hal ini tercermin dari fenomena baru yang sedang ramai menjadi bahan obrolan warganet media sosial Indonesia. Di linimasa Twitter muncul perbincangan tentang jasa penyaluran kebutuhan afeksi yang disebut dengan istilah “cuddle care”. Sesuai dengan namanya, jasa ini menyewakan pelukan intim sebagai layanan bagi konsumennya. Agar tidak terjadi salah paham sebagian penyedia jasa cuddle care pun menetapkan syarat dan ketentuan yang harus disepakati terlebih dulu. Tentu saja, penawaran jasa ini masih terhitung ilegal dan dilakukan secara tertutup melalui kanal media sosial.

Fenomena “Cuddle” dalam Perbincangan Warganet

Dari pemantauan linimasa Twitter yang dilakukan Netray Media Monitoring, ditemukan bahwa kata kunci “cuddle” menghasilkan 6.482 tweet sejak awal bulan November 2021. Terlihat bahwa kuantitas perbincangan tiba-tiba melonjak tinggi pada tanggal 16 November 2021. Apabila dibandingkan dengan hari sebelumnya, terpantau pada tanggal tersebut tweet sebanyak 813 tweet atau melonjak sebanyak 845 %.

Untuk menelusuri perbincangan tersebut, Netray akan memanfaatkan grafik Top Words. Pada grafik ini biasanya terdapat kata-kata spesifik yang menjadi representasi perbincangan warganet. Kata tersebut ditampilkan dalam ukuran yang besar dan berada di tengah grafik. Namun pada pemantaun di tanggal 16 November 2021, tidak ditemukan istilah-istilah yang menonjol. Hampir sebagian besar berukuran sama. Bisa diartikan bahwa warganet tidak berfokus pada sedikit sudut pandang saat membahas kata kunci tersebut.

Akan tetapi apabila disimak lebih detail lagi, ada beberapa hal yang dibicarakan warganet. Yaitu sebagian besar dari mereka berharap mendapatkan cuddle atau berpelukan dengan seseorang.  Cuaca hujan dan dingin seperti layaknya musim penghujan menjadi salah satu aspek yang mendorong perbincangan ini. Tak sedikit pula yang masih penasaran dengan bagaimana rasa melakukan aktivitas intim tersebut.

Selain kuantitas tweet yang melonjak, volume interaksi dari warganet juga meningkat pesat, bahkan mungkin dengan angka yang cukup mengejutkan. Pasalnya dari total tweet dengan kata kunci yang terhitung hanya ribuan, angka impresi terpantau mencapai 25 juta kali interaksi dalam bentuk reply, retweet, dan favorites. Nilai tersebut juga menjadi semakin janggal ketika diketahui hanya ada 1.666 user yang mengunggah tweet. Dengan proporsi 905 user laki-laki dan 761 perempuan.

cuddle

Setelah ditelusuri, alasannya ternyata terdapat sejumlah tweet populer dari akun yang kerap membuat cerita fiktif alternate universe (AU). Tweet tersebut tidak diunggah pada periode pemantauan, akan tetapi kembali populer karena menyinggung fenomena cuddle di dalamnya. Kepopuleran cerita AU di kalangan warganet Twitter disinyalir menjadi penyebab melonjaknya interaksi meski tidak menyumbang perbincangan secara langsung. Lantas bagaimana dengan fenomena penyedia jasa layanan cuddle seperti yang dibahas pada awal tulisan ini? Akan dibahas berikutnya.

Jasa Layanan Cuddle, Ilegal dan Kerap Disalahartikan

Di tengah riuh rendah perbincangan warganet tentang fenomena berpelukan secara  intim ini, tak sedikit tweet yang justru berisi promosi jasa layanan kencan singkat. Servis yang diberikan pada kencan tersebut tentu saja cuddle (berpelukan dengan erat). Praktik yang dilakukan hampir mirip dengan prostitusi online atau yang kerap disebut dengan “open BO”. Mereka mengadopsi sistem prostitusi online, semisal durasi waktu, untuk melayani pelanggannya.

Tentu saja aktivitas ini adalah aktivitas ilegal yang bisa saja bertentangan dengan hukum Indonesia. Para penyedia jasa biasanya memanfaatkan bio Twitter, profil, hingga tagar untuk memberi tahu warganet bahwa pengguna akun tersebut menawarkan jasa cuddle. Berikut ini adalah tipikal bio akun Twitter yang menawarkan jasa tersebut.

Batas tipis antara penyedia layanan cuddle dengan open BO akhirnya menimbulkan polemik. Meskipun banyak jasa cuddle yang juga melakukan prostitusi, tak semua jasa cuddle juga melakukan praktik tersebut. Mereka kerap memiliki aturan spesifik terkait aktivitas apa saja yang bisa dilakukan antara calon penyewa dan penyedia jasa. 

Penutup

Fenomena cuddle menjadi subyek perbincangan yang sangat mutakhir di sosial media Indonesia. Kata kunci tersebut bahkan mulai melonjak pada pertengahan periode pemantauan, alih-alih secara konstan muncul di linimasa. Pemantauan kata kunci ini juga menunjukkan fenomena praktik pelayanan jasa cuddle bagi mereka yang merasa membutuhkan afeksi atau kasih sayang. Praktik tersebut mengadopsi praktik prostitusi online, sehingga kerap menimbulkan friksi di lapangan. Untuk pemantauan topik mutakhir yang lain bisa pembaca simak di blog Netray.

More like this

Tutup 12 Gerai Holywings, Anies Baswedan Raih Simpati Publik

Pemprov DKI resmi mencabut izin operasi Holywings dan menutup 12 gerai yang berada di...

Pro Kontra RUU KIA yang Diperdebatkan Warga Twitter

Rancangan Undang-Undang Kesejahteraan Ibu dan Anak (RUU KIA) saat ini tengah dibahas oleh Dewan...

Kondisi Startup Indonesia di Tengah Wacana PHK Massal

Startup Ranking menempatkan Indonesia sebagai negara kelima dengan jumlah startup terbanyak di dunia. Per Juni...
%d blogger menyukai ini: