Fenomena Childfree di Indonesia, Perspektif Agama hingga Budaya dari Warganet

childfree

Fenomena childfree belakangan ini marak diperbincangkan warganet di media sosial Twitter. Perbincangan mengenai keputusan childfree atau tidak memiliki anak tersebut ramai didiskusikan warganet mulai dari sudut pandang agama hingga budaya. Prinsip hidup tersebut masih dianggap tabu di Indonesia. Tentu saja hal ini disebabkan oleh perspektif kultur masyarakat yang masih menganggap pernikahan adalah keputusan untuk memiliki keturunan. 

Lantas, seperti apa keramaian warganet menanggapi fenomena ini? Adakah sudut pandang tertentu yang dijunjung warganet dalam berasumsi terkait hal tersebut? Berikut ulasan Media Monitoring Netray.

Pengertian dan Sejarah Childfree

Dikutip dari Wikipedia, childfree adalah sebuah keputusan atau pilihan hidup untuk tidak memiliki anak, baik itu anak kandung, anak tiri, ataupun anak angkat. Istilah childfree dibuat dalam bahasa Inggris di akhir abad ke 20. St. Augustine sebagai penganut kepercayaan Maniisme, percaya bahwa membuat anak adalah suatu sikap tidak bermoral, dan dengan demikian (sesuai sistem kepercayaannya) menjebak jiwa-jiwa dalam tubuh yang tidak kekal. Untuk mencegahnya, mereka mempraktikkan penggunaan kontrasepsi dengan sistem kalender.

Dalam buku No Kids: 40 Reasons For Not Having Children, Corinne Maier tertulis beragam alasan bagi seseorang yang memilih dan memutuskan untuk childfree. Mulai dari kurangnya finansial, masalah kesehatan, hingga kepedulian akan dampak negatif pada lingkungan yang bisa mengancam seperti over population dan kelangkaan sumber daya alam. 

Childfree di Tengah Budaya Indonesia

Fenomena ini mulai menjadi tren dan bahkan telah meningkat di Indonesia. Seperti yang tengah menjadi sorotan media yang mana seorang publik figur memutuskan dan memberitahukan kepada publik bahwa ia memilih hidup childfree. Hal ini pun menjadi bahan perbincangan publik yang mana gaya hidup ini masih dinilai tabu di tengah kultur Indonesia. 

Childfree dan Agama

Mayoritas masyarakat Indonesia yang menganut agama Islam, tentu saja memperdebatkan fenomena ini. Usut punya usut, topik ini mulai ramai diperbincangkan warganet setelah adanya thread dari akun Masjid Salman ITB yang membahas childfree dalam pandangan Islam. 

Childfree dan Overpopulation

Seperti yang dituliskan oleh Corinne Maier, salah satu alasan seseorang memutuskan untuk childfree ialah kepedulian akan dampak negatif pada lingkungan (over population). Hal ini ternyata juga disampaikan oleh beberapa netizen Indonesia yang memandang childfree sebagai salah satu cara untuk menyelamatkan bumi.

Childfree dan Masa Tua

Perdebatan gaya hidup untuk tidak memiliki anak pun tidak berhenti di sudut pandang di atas, bahkan persoalan masa tua seseorang penganut childfree pun menjadi topik diskusi warganet. Sentimen negatif muncul berkaitan dengan argumen warganet yang menilai masa tua penganut childfree akan terasa sulit karena tidak adanya anak yang mengasuh mereka. Namun, sentimen positif pun muncul dari warganet yang menilai seseorang yang memutuskan Childfree tentu saja telah memperhitungkan kehidupan mereka sejak dini. 

Gaya hidup childfree mungkin saja masih dianggap tabu oleh beberapa masyarakat di Indonesia. Budaya menikah dan memiliki keturunan hingga saat ini masih melekat di tengah kehidupan sosial. Namun keputusan untuk tidak memiliki anak atau menganut hidup childfree merupakan hak hidup seseorang. Semua tentu memiliki latar belakang alasannya masing-masing. Nah, bagaimana menurut kalian? 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: