Feminisme: Melawan Patriarki hingga Tuai Kontroversi

Feminisme merupakan istilah yang tidak lagi asing terdengar dewasa ini. Menurut KBBI, feminisme adalah gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara laki-laki dan perempuan. Persamaan hak tersebut dapat meliputi apa saja, seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, kesempatan bekerja, hak untuk bersuara, dan kesetaraan lainnya. Hegemoni patriarki dalam masyarakat dan tatanan hukum menyebabkan dominasi, subordinasi, serta ketimpangan gender pada wanita. Hal ini kemudian menyebabkan aturan hukum menjadi tidak objektif karena ideologi pembuat keputusan dibuat tidak untuk kepentingan wanita. Salah satu tokoh feminisme yang terkenal di Indonesia yaitu R.A Kartini. Beliau turut bersuara mengkritik keadaan perempuan Jawa yang tidak mendapatkan kesempatan untuk mengecap pendidikan yang setara seperti halnya kaum laki-laki.

feminisme

Berdasarkan Top Words di atas terlihat beberapa kosakata populer yang kerap digunakan warganet dalam membicarakan topik terkait feminis, seperti anti, ideologi, childfree, liberal, patriarki, lgbt, surogasi dan beberapa kosakata lainnya. Feminisme bagi warganet agaknya menjadi topik hangat yang memantik diskusi dan berbagai opini bahkan tak jarang menjadi perdebatan.

Gerakan feminisme pun semakin populer di era modern saat ini, tidak sedikit dari masyarakat yang turut menyuarakan isu terkait gender yang terus bergulir. Dengan berkembangnya paham ini, feminisme pun memiliki beragam aliran seperti feminisme liberal, feminisme radikal, feminisme post modern, feminisme anarkis, feminisme marxis, feminisme pascakolonial, feminisme nordik, maupun feminisme sosialis. Namun tidak sedikit dari masyarakat yang tidak setuju dengan gerakan feminisme. Media Monitoring Netray mencoba merangkum opini warganet terkait feminisme, simak selengkapnya hasil rangkuman Netray berikut.

Bila diamati melalui grafik di atas terlihat total tweets pada topik ini mencapai 1,733 dan meningkat secara signifikan sejak 17 Agustus 2021. Adapun jumlah impresi pada topik ini mencapai 61.9 ribu dengan potensi jangkauan sebesar 4.3 juta. Menariknya perbincangan terkait feminisme justru didominasi oleh tweets bersentimen negatif, mengapa demikian?

Feminisme dan Patriarki yang Menghantui

Berbicara mengenai feminisme tentu tak lepas dari patriarki yang merupakan perilaku yang mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam masyarakat atau kelompok sosial tertentu. Ketimpangan terhadap gender biasanya terjadi akibat masyarakat yang terhegemoni oleh patriarki. Hal ini yang kemudian menimbulkan perdebatan hingga saat ini.

Melalui beberapa tweets di atas terlihat perdebatan warganet terkait feminisme yang selalu berkaitan dengan patriarki. Sebagian warganet terlihat menolak paham feminisme dan menilai kesetaraan yang dimaksud oleh penganut feminisme tidak logis. Bahkan penolakan terhadap paham feminisme kerap terjadi dalam lingkungan terkecil tempat tinggal, yakni keluarga yang tak jarang menganut patriarki dan menempatkan perempuan untuk mengurus persoalan domestik dalam rumah tangga.

Feminisme dan Islam

Dalam memperbincangkan topik ini, warganet kerap mengaitkan paham feminisme dan Islam. Sebagian dari warganet tersebut berusaha menyuarakan tafsir yang menurut mereka benar terkait pandangan Islam tentang feminisme.

Berbagai pandangan terkait paham feminisme agaknya masih terus bergejolak dengan pemahaman masyarakat. Terlebih saat mengaitkan feminisme dengan islam. Terlihat melalui beberapa tweets di atas warganet yang menolak feminisme dan menganggap Islam melarang keras paham ini. Namun, terdapat juga warganet yang menilai Islam justru menjunjung tinggi kesetaraan dengan memuliakan perempuan melalui ajarannya. Perdebatan ini pun terus berlanjut dengan mengaitkan sejarah anti feminisme di tanah air yang dinilai berkaitan dengan narasi Ali Moertopo dan Hilmi Aminuddin pada tahun 70an yang memandang gerakan PKI berkaitan dengan feminisme.

Feminisme Radikal

Perbincangan terkait feminisme juga tak lepas dari paham radikal yang dianggap saling berkaitan. Sebagaimana feminisme radikal yang juga menjadi salah satu aliran dari paham feminisme. Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi akibat sistem patriarki. Tubuh perempuan merupakan objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki. Oleh karena itu, feminisme radikal mempermasalahkan antara lain tubuh serta hak-hak reproduksi, seksualitas (termasuk lesbianisme), seksisme, relasi kuasa perempuan dan laki-laki, dan dikotomi privat-publik.

Pandangan my body is mine and my sexuality is my authority dianggap sebagai semboyan dari feminisme radikal. Aliran ini muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau dominasi sosial berdasar jenis kelamin di Barat pada tahun 1960-an, untuk melawan kekerasan seksual dan industri pornografi. Namun, hal ini tak lepas dari berbagai perdebatan, Terlihat melalui beberapa tweets di atas sebagian warganet tidak setuju terhadap feminisme radikal. Bahkan dalam opininya warganet mengaitkan dengan ajaran agama yang menganggap paham ini menyalahi kodrat manusia sebagai hamba. Meski demikian tidak sedikit warganet yang setuju dengan pandangan ‘tubuhku adalah otoritasku’ dan menilai perempuan bebas dalam menentukan pilihan hidupnya.

Feminisme Menurut Pandangan Warganet Instagram

Agaknya perdebatan terkait feminisme tidak hanya terjadi di media sosial Twitter melainkan juga di Instagram. Opini terkait feminisme juga diunggah oleh para pemilik akun Instagram yang menilai feminisme menarik untuk menjadi pembahasan. Untuk itu Netray juga mengamati laju pembahasan warganet Instagram terkait penggunaan tagar feminisme dalam unggahan mereka. Melalui gambar di atas terlihat beberapa tagar lainnya yang berkaitan dengan feminisme menurut pandangan para pengguna media sosial Instagram.

Netray melakukan pemantauan terkait topik ini sejak 21 Agustus 2021 sampai dengan 27 Agustus 2021, selama periode tersebut terlihat total postingan warganet Instagram terkait topik ini mencapai 513 Total Post yang menjangkau 4.6 juta akun. Berdasarkan grafik di atas juga terlihat kenaikan grafik secara signifikan terjadi sejak 21 Agustus 2021. Berikut beberapa unggahan warganet Instagram terkait feminisme.

Pembahasan topik feminisme mengalami kenaikan setelah beberapa waktu lalu topik childfree mencuat dan ramai diperbincangkan di media sosial. Seperti diketahui, hal ini bermula dari unggahan seorang influencer Gita Savitri yang memutuskan untuk childfree. Sontak hal ini pun menjadi perbincangan hangat di media sosial yang menimbulkan pro dan kontra. Beberapa warganet yang sepakat pun mengunggah opini mereka terkait topik ini dan menilai memiliki anak itu merupakan pilihan bukan sebuah kewajiban.

Pembahasan feminisme dan childfree pun tidak terlepas dari pandangan agama yang bagi sebagian masyarakat feminisme bertolak belakang dengan ajaran islam. Hal ini kemudian memantik perdebatan mendalam terkait feminisme yang sebenarnya menentang paham patriarki yang mengakar kuat dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai negara yang didominasi oleh masyarakat yang memeluk agama Islam hal ini menjadi topik yang menarik untuk dibahas.

Terlihat melalui salah satu unggahan warganet yang menyampaikan usul terkait tiga faktor penting yang membentuk perubahan hubungan antara feminisme dan Islam, pertama wacana transisi dari budaya patriarki menjadi penyebaran egalitarianisme gender. Kedua, reformasi hukum untuk mengakhiri praktik-praktik diskriminatif terhadap perempuan, dan ketiga reinterpretasi teks-teks agama yang lebih manusiawi dan lebih akomodatif terhadap perempuan.

Top Categories Topik Feminisme

Pada kategori Top Accounts Instagram terlihat @dokterid menempati urutan teratas kategori ini. Melalui unggahannya akun tersebut terlihat kerap bersuara dan memberikan dukungannya terhadap perempuan. Sementara itu, pada kategori Top Accounts di Twitter terlihat akun @evylagi menempati urutan teratas kategori ini. Berbeda halnya dengan Top Account Instagram, akun teratas Top Account Twitter justru menyuarakan ketidaksepakatannya atas feminisme.

Pembahasan terkait feminisme memang selalu menjadi topik hangat yang menuai perdebatan, baik di media sosial Twitter maupun Instagram. Melalui akunnya masing-masing pemilik bebas beropini dan mengkritik. Menariknya topik ini pun melahirkan kerangka berpikir yang berkaitan dan akan selalu menuai perdebatan seperti, paham patriarki, feminisme dengan liberal, feminisme dengan Islam, dan beberapa kaitan lainnya. Agaknya perdebatan dan perbedaan pendapat menjadi suatu hal yang akan selalu terjadi. Namun bukankah sebaiknya kita dapat saling menghargai setiap manusia dalam menentukan pilihannya?

Demikian hasil analisis Netray simak hasil analisis lainnya melalui https://blog.netray.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: