Celoteh Ahok: Kecaman buat Pertamina Hingga BUMN

ahok

Nama Basuki “Ahok” Purnama seperti tak pernah lepas dari polemik. Sejak karir politiknya yang cukup teatrikal berhenti karena sebuah kasus pidana, kini ia kembali menghadirkan keriuhan di khalayak ramai setelah menjabat sebagai Komisaris Utama PT Pertamina.

Ahok membuat pernyataan yang isinya mengungkap sejumlah “borok” Badan Usaha Milik Negara yang sekarang ia pimpin. Pernyataan ini tentu mendatangkan banyak reaksi keras dari sejumlah pihak. Netray mencoba untuk memantau bagaimana imbas dari celotehan Ahok di media massa dan media sosial Twitter.

Pantauan Media Massa

Media monitoring Netray melakukan pemantauan media massa selama periode 12-18 September 2020 dengan kata kunci ahok, pertamina, bumn, basuki, dan purnama.  Hasilnya, Netray menemukan bahwa pemberitaan perdana terjadi pada tanggal 15 September. Saat itu diberitakan bahwa Ahok naik pitam gara-gara BUMN, seperti Pertamina dan Peruri, ternyata banyak yang salah asuh.

Selama periode yang sama, Netray berhasil mengumpulkan 513 berita yang diterbitkan oleh 65 surat kabar daring. Surat kabar daring yang paling banyak meliput adalah Rakyat Merdeka Online dengan 34 liputan. Disusul Kumparan, Viva, dan CNN Indonesia dengan masing-masing 25, 24, dan 23 kali penayangan berita dengan kata kunci.

Dari akumulasi kata yang paling sering muncul dalam periode akumulasi berita, Netray menemukan beberapa objek yang patut untuk diperhatikan. Pertama adalah munculnya nama Menteri Erick Thohir. Ketika Ahok menuding kinerja Pertamina dan BUMN secara keseluruhan, secara tidak langsung ia berhadap-hadapan dengan Pak Menteri.

Buntutnya, Erick memanggil Ahok untuk berdialog. Media massa sempat membangun narasi bahwa keduanya akan berseteru mengingat kerasnya oto kritik yang dilemparkan oleh Ahok. Nyatanya, justru kesan sebaliknya yang muncul. Kedua belah pihak sepakat untuk bersinergi dan Menteri Erick menugaskan Ahok mentransformasi BUMN.

Selanjutnya adalah frase ‘video youtube’. Perlu diketahui bahwa kegaduhan yang dibuat oleh Ahok ini berawal dari unggahan video di laman YouTube oleh sebuah akun. Karena berisi pernyataan yang kontroversial, video tersebut akhirnya menjadi viral. Tak sedikit kanal berita yang meliput konteks tersebut.

Terakhir namun bukan akhir adalah kata-kata semacam ‘pertamina’, ‘kilang’, atau ‘pejabat’. Ini adalah subjek-subjek yang dibicarakan Ahok dalam celotehnya. Ahok mengkritik Pertamina karena tak ada niatan untuk membangun kilang tersendiri, dan pejabat-pejabat mereka gemar melobi ke DPR guna memuluskan kebijakan yang bersangkutan dengan program Pertamina.

Netray juga memantau bagaimana media massa daring memberi penilaian terhadap isu tersebut. Hasilnya adalah media massa secara umum cukup tak bisa menemukan pijakan bersama, 229 berita memberi sentimen positif terhadap manuver yang dilakukan Ahok dan 144 yang memberi penekanan negatif.

Pantauan Sosial Media

Netray beranjak ke sosial media untuk melihat bagaimana dampak dari pernyataan Ahok. Selama masa pemantauan, ditemukan 28.976 cuitan dan perbincangan ini pertama kali mencuat di Twitter pada tanggal 15 September.

Perbincangan ini mencapai 99,7 juta pengguna Twitter dan mendapat respon sebanyak hampir 150.000 kali. Dengan jumlah ini, bisa digolongkan perbincangan tentang pernyataan Ahok berada di level nasional. Hanya mungkin perlu dicermati lagi.

Dari grafik top account bisa terlihat ada sejumlah nama atau akun besar yang bertengger di sana. Seperti @ustadtengkuzul, @podoradong, @fadlizon, hingga @ChusnulSyantik. Akun-akun ini sudah sangat dikenal tidak menyukai sosok Ahok dan kebetulan mereka yang mendominasi perbincangan.

Imbasnya adalah sentimen terhadap pembicaraan ini menjadi sangat bias ke sentimen negatif. Catatan Netray menunjukkan 20.205 cuitan memiliki sentimen negatif sedangkan cuitan dengan indeks positif hanya berjumlah 3.672 cuitan saja. Belum lagi Netray membaca setiap cuitan yang mengafirmasi pernyataan Ahok juga merupakan sentimen negatif terhadap Pertamina atau BUMN secara umum.

Jika hanya melihat kuantitas cuitan serta dominasi sentimen negatif, mungkin sosok Ahok bisa dianggap sebagai sosok yang tidak disukai masyarakat Indonesia. Namun, ketika ditilik lebih dalam lagi, sentimen negatif hanya muncul dari kalangan yang memang sudah sejak lama berkonfrontasi dengan sosok Ahok. Sentimen negatif dari cuitan warganet Twitter juga mengarah pada kritik yang disampaikan Ahok dalam sebuah video. Sepertinya polemik masih akan terus berlanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: