Banjir Sintang, Rusaknya Lingkungan dan Kritik Warganet

Memasuki musim penghujan, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat telah terendam banjir selama hampir satu bulan. Kabar ini menjadi perbincangan hangat berbagai platform media, termasuk Twitter dan media pemberitaan daring. Banjir yang melanda dalam kurun waktu yang cukup lama ini mengakibatkan lumpuhnya akses transportasi hingga mengganggu aktivitas warga dan berdampak pada perekonomian. Kabarnya, banjir tahun ini pun menjadi banjir terburuk yang pernah terjadi di Kalimantan Barat. Lalu apakah penyebab dari terjadinya bencana alam ini? Bagaimana pemerintah menangani persoalan ini?

Netray mencoba merangkum dan mengamati laju perbincangan warganet sejak 21 Oktober 2021 sampai dengan 21 November 2021. Hasilnya tampak pada analisis berikut.

sintang
Gambar 1. Hot Issues News

Pada Hot Issues media pemberitaan daring tampak sejumlah topik yang berkaitan dengan banjir di Kalbar yang turut merendam 5 kabupaten, yakni Kabupaten Sanggau, Kabupaten Sekadau, Kabupaten Melawi, Kabupaten Sintang dan Kabupaten Kapuas Hulu. Selain itu, perbincangan ini juga turut melibatkan sejumlah tokoh politik di tanah air, seperti Fadli Zon, Prabowo Subianto, dan Joko Widodo.

Gambar 2. Statistics Report

Selama periode pantauan Netray total News pada topik ini mencapai 1.542 yang berasal dari 74 media pemberitaan daring. Dalam pembahasan tersebut setidaknya melibatkan 12.4 ribu total Person Entities. Adapun top kategori pada topik ini didominasi oleh pemberitaan dengan kategori bencana, politik, dan pemerintahan.

Gambar 3. Peak Time
Gambar 4. Sentiment Trend

Banjir setinggi 3-5 meter yang telah merendam beberapa kabupaten di Kalbar sejak 22 Oktober lalu pun ramai menjadi sorotan setelah Fadli Zon menyindir Presiden Joko Widodo yang tengah berada di Sirkuit Mandalika, Lombok. Ia meminta Jokowi untuk memperhatikan dan menyelesaikan persoalan banjir yang tak kunjung surut di Sintang, Kalbar. Hal ini tampak pada gambar 3 dan 4, rentang waktu periode pantauan Netray yang menunjukkan intensitas media pemberitaan naik secara signifikan pada 15 November 2021.

Gambar 5. Suara: 15 November 2021
Gambar 6. Metro Jambi: 15 November 2021

Ramainya pembahasan media terkait topik ini tentu dipengaruhi oleh cuitan Fadli Zon tersebut. Tak tanggung-tanggung hal ini justru memantik Prabowo Subianto dan Fahri Hamzah turut bereaksi hingga melibatkan partai Gerindra. Berbeda dengan Fahri Hamzah yang terkesan membela Fadli Zon, Prabowo Subianto justru mengambil sikap bersebrangan dengan keduanya. Bahkan kabarnya Prabowo sempat menegur Fadli Zon secara lisan melalui Ahmad Muzani.

Banjir Sintang Menjadi Bukti Nyata Kerusakan Lingkungan

Selain curah hujan yang tinggi, rendahnya serapan akibat perubahan fungsi lahan mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah termasuk Sintang. Menghadapi persoalan ini pemerintah seharusnya memiliki rencana jangka panjang terhadap pembangunan termasuk dampaknya pada perubahan lingkungan. Alih fungsi lahan dan kerusakan akibat hal ini juga dapat diamati melalui infografik yang berasal dari laman lokadata berikut.

Gambar 7. Kebakaran hutan dan lahan di lima provinsi tahun 2019

Pada infografik di atas dapat diamati provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2019 menjadi provinsi dengan luas kebakaran hutan dan lahan yang paling tinggi. Perubahan lingkungan yang terus terjadi tentu berdampak pada kehidupan masyarakat di kemudian hari. Tak heran kerusakan yang terus menerus ini mengakibatkan bencana alam seperti banjir dalam waktu panjang yang tentu tidak dapat terelakkan. Untuk itu, pemerintah dan masyarakat seharusnya menjadikan hal ini sebagai evaluasi.

Gambar 8. Detik: 21 November 2021
Gambar 9. IDN Times: 21 November 2021

Sementara itu, pemulihan kondisi lingkungan agar dapat kembali berfungsi sebagai mestinya seharusnya menjadi program prioritas pemerintah agar banjir seperti ini tidak lagi terjadi di kemudian hari. Sebagaiman catatan yang dimiliki (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) BNPB, bahwa sejak 1990 hingga 2010 tidak ada banjir di wilayah Sintang. Namun, hal itu berubah setelah terjadi kerusakan lingkungan dalam satu dekade terakhir.

Penurunan daya dukung lingkungan tersebut juga yang kemudian menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya banjir, karena daerah cakupan resapan air telah rusak dan berubah fungsi. Kesadaran kolektif dan sinergi dari seluruh pihak seperti pemerintah, komunitas, akademisi, masyarakat, dunia usaha hingga media massa, atau yang disebut dengan komponen pentaheliks tentunya diperlukan untuk menjalankan program jangka panjang pemulihan lingkungan tersebut.

Perubahan Fungsi Lahan Sebabkan Bencana Ekologis

Kabar mengenai banjir Sintang pun berhembus di media sosial Twitter. Topik ini pun menjadi perbincangan masyarakat luas yang mengarah pada kekesalan mereka terhadap kerusakan alam yang terjadi. Bencana ekologi banjir di Sintang pun menjadi sasaran kritik warganet atas pemerintah yang turut serta dalam perubahan fungsi lahan tersebut.

Gambar 9. Peak Time
Gambar 10. Sentiment Trend

Tampak pada gambar 9 intensitas perbincangan warganet terkait banjir Sintang mengalami peningkatan sejak tanggal 05 November 2021. Padahal Sintang telah terendam banjir sejak 22 Oktober 2021. Lambatnya respons dan reaksi dari pemerintah pusat membuat timbulnya persepsi terkait perbedaan penanganan antara banjir di Jakarta dengan banjir di daerah. Hal ini dapat dilihat melalui opini warganet berikut.

Rentang waktu yang berkepanjangan membuat banjir Sintang akhirnya ramai menjadi perbincangan. Adanya anggapan perbedaan respons dari pemerintah tersebut membuat hal ini semakin menarik. Tentu saja masyarakat berharap pemerintah mampu menciptakan solusi jangka pendek dan jangka panjang dalam penanganan persoalan ini. Terlebih banjir tersebut merupakan wujud nyata dari kerusakan lingkungan selama beberapa dekade terakhir hingga wilayah yang sebelumnya tidak alami banjir kini harus turut terendam.

Gambar 11. Statistic Report

Melalui statistik di atas tampak total perbincangan warganet terkait topik ini mencapai 30.8 ribu dengan didominasi oleh tweets bersentimen negatif. Adapun impresi warganet mencapai 62.8 juta dengan potensi jangkauan sebesar 135 juta akun pengguna Twitter. Hal ini menunjukkan banjir Sintang merupakan topik yang cukup ramai diperbincangkan oleh warganet, terlebih setelah dipantik oleh Fadli Zon melalui beberapa tweetnya.

Munculnya tweet Fadli Zon yang menyindir Jokowi saat tengah berkunjung ke sirkuit Mandalika membuat perbincangan terkait banjir Sintang mengalami peningkatan yang signifikan. Aktor politik tersebut dinilai berhasil mencuri perhatian warganet hingga dirinya ditegur oleh petinggi partai.

Minimnya informasi dan pemberitaan terkait bencana alam di daerah menyebabkan lambatnya bantuan yang datang. Akibatnya ribuan masyarakat yang harus mengungsi tersebut alami kesulitan pemenuhan kebutuhan sandang, papan, dan pangan.

Gambar 11. Top Complaints
Gambar 12. Top Accounts

Sementara itu, pada kategori Top Complaints tampak perbincangan terkait kerusakan lingkungan mendominasi keluhan warganet pada topik ini. Pada kategori Top Accounts tampak beberapa akun populer dalam perbincangan warganet, termasuk akun Twitter @CNNIndonesia, @fadlizon, dan @jokowi.

Gambar 13. Top Locations

Banjir yang terjadi di sejumlah wilayah di Kalimantan Barat selama beberapa waktu lalu memantik perbincangan hangat di masyarakat, termasuk jagad maya. Meski semula banjir ini luput dari sorotan dan perbincangan akhirnya atensi masyarakat meningkat setelah Fadli Zon menyindir Presiden Joko Widodo dan menyulut perdebatan. Banjir Sintang menjadi bukti nyata dari kerusakan alam yang terus terjadi. Curah hujan yang tinggi dan rendahnya serapan membuat genangan semakin lama bertahan. Perubahan alih fungsi lingkungan jelas menjadi penyebab utama peristiwa ini. Untuk itu pemerintah seharusnya menyiapkan solusi jangka panjang agar memperbaiki lingkungan yang telah mengalami kerusakan dalam beberapa dekade terakhir. Terlebih adanya slogan ‘Kalimantan Paru-Paru Dunia’ agaknya hal ini menjadi kontradiktif setelah kerusakan lingkungan kini benar-benar menyebabkan bencana ekologis.

Demikian hasil pantauan Netray, simak analisis lainnya melalui https://blog.netray.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: