Bahaya Hustle Culture, Gila Kerja atau Dikerjain Nih?

monitoring hustle culture

Istilah hustle culture belakangan ramai menjadi perbincangan dan berseliweran di timeline netizen. Namun barangkali tidak semua warganet mengerti akan istilah yang berasal dari kata asing ini. Hustle culture merupakan sebuah istilah untuk seseorang yang merasa bahwa dirinya harus terus bekerja keras sehingga hanya meluangkan sedikit waktu untuk beristirahat. Netray melakukan penelusuran dan merangkum perbincangan warganet terkait topik ini sejak 15–21 September 2021 dengan menggunakan beberapa kata kunci seperti hardworking, overwork, dan hustle culture. Hasilnya dapat disimak pada infografik berikut.

  • Top Words Hustle Culture
  • Statistik Hustle Culture

Hustle culture atau dikenal juga dengan ‘gila kerja’ menyebabkan seseorang bekerja melebihi waktu normal. Sayangnya, hal ini justru dapat berdampak negatif pada seseorang yang mengidap gaya hidup hustle culture. Pada grafik di atas topik mengenai hustle culture tampak muncul  hampir setiap hari selama periode pantauan Netray. 

Dilansir dari laman Fakultas Kedokteran Airlangga yang mengutip Forbes terdapat 55% pekerja di Amerika Serikat yang mengalami stress karena pekerjaannya. Jumlah ini 20% lebih tinggi dibandingkan angka keseluruhan di dunia. Menurut Mental Health Foundation UK, di Inggris 14,7% pekerjanya mengalami gangguan kesehatan mental akibat pekerjaan. Di Jepang, jumlah pekerja yang mengalami penyakit jantung, stroke, hingga gangguan mental meningkat 3x lipat akibat kelelahan bekerja. Sementara di Indonesia, 1 dari 3 pekerja mengalami gangguan kesehatan mental akibat jam kerja berlebih.

Lalu seperti apakah opini warganet terkait Hustle Culture?

Sebagian dari mereka yang mengaku pernah mengalami hal ini, menganggap hustle culture merupakan gaya hidup yang cukup mengerikan. Mereka menilai bahwa menyibukkan diri dengan cara bekerja berlebihan tersebut justru dapat membahayakan kesehatan, baik fisik maupun mental.

Namun agaknya fenomena hustle culture tak selalu ditentang secara keras oleh warganet. Hal tersebut dapat diamati melalui tweets warganet di atas yang merasa tidak mempermasalahkan orang-orang yang menjalani gaya hidup hustle culture. Akan tetapi, mereka juga mengingatkan agar para pelaku hustle culture tidak meremehkan orang-orang yang bekerja secara normal. 

Penutup

Hustle culture sebenarnya bukan merupakan gaya hidup baru. Gaya hidup ini telah lama ada dan dijalani oleh mereka yang beranggapan bahwa aspek kehidupan paling penting adalah mencapai tujuan profesional dengan bekerja keras tanpa henti. Padahal apapun yang berlebihan bukanlah hal yang baik. Terlebih, tanpa disadari hustle culture dapat membahayakan kesehatan fisik dan mental seseorang. Alih-alih dapat mengumpulkan banyak uang untuk nyaman menjalani kehidupan justru penyakit lah yang akan berdatangan. Jadi, buat kalian para pekerja keras jangan lupa untuk menyayangi diri kalian ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: