Ancaman Baru Covid-19 Terhadap Klaster Sekolah, Warganet Risaukan Sekolah Tatap Muka

klaster sekolah

Covid-19 tidak henti mencari celah bagi mereka yang tengah lalai. Kini, klaster sekolah mulai luput dari ancaman virus yang tidak ada hentinya ini. Pemberitaan terkait siswa hingga guru positif Covid-19 mulai tesiar di beberapa media. Awal bulan ini guru Man 22 Palmerah mencuri perhatian media berita lantaran liburan rombongan guru tersebut berujung fatal, 33 guru dan pertugas TU terkonfirmasi positif Covid-19. 

Oktober lalu, Netray sempat memantau percakapan warganet terkait Keluhan Warganet Soal Sekolah Daring. Meski sekolah daring menimbulkan kejenuhan hingga stres pada anak didik, kebijakan sekolah luring patutnya mendapat pengawasan ketat dari otoritas terkait. Salah satu bentuk kelalaian lainnya ialah uji coba sekolah tatap muka di beberapa daerah yang tersiar berdampak negatif. Beberapa siswa terpapar Covid-19 setelah melakukan uji coba sekolah luring. Lantas, bagaimana media menyoroti sektor ini? Berikut ulasan Media Monitoring Netray terkait klaster sekolah ini.

KLASTER SEKOLAH MULAI DIBERITAKAN MEDIA

Di tengah hiruk pikuk kasus-kasus besar yang terjadi di Indonesia, ternyata pandemi juga masih mencari kesempatan untuk selalu diberitakan di media. Kasus siswa dan guru positif yang mulai diberitakan media, mencuri perhatian Netray. Dengan kata kunci guru && positif covid dan siswa && positif covid, Netray berhasil mengumpulkan 339 artikel dari 66 portal media berita yang memberitakan terkait hal ini. Dalam periode pantauan 1-13 Desember 2020, topik klaster sekolah ini ramai dibahas dalam kategori Pendidikan dan Kesehatan. 

Di awal bulan ini, berita pandemi pada sektor pendidikan mulai ramai diberitakan media. Puluhan guru dan karyawan salah satu sekolah di DKI Jakarta kecolongan dari ancaman Covid-19. Dengan adanya kejadian tersebut, kata guru, covid, hingga positif mendominasi pemberitaan pada topik ini.  

GURU POSITIF COVID-19

Pemberitaan mengenai guru yang terpapar virus hingga meninggal dunia mulai santer diberitakan media. Awal bulan, guru di Kudus dikabarkan meninggal diduga akibat Covid-19. Plt Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Harjuna Widada mengonfirmasi kebeneran berita tersebut. Dua guru yang meninggal karena penyakit bawaan serta hasil swab yang menunjukkan positif Covid-19.

Hingga kini, tercatat jumlah guru meninggal positif Covid-19 bertambah menjadi 5 orang. Laporan tambahan, 14 dari 43 guru yang menjalani swab test dinyatakan positif dan masih dalam perawatan intensif serta isolasi mandiri. Menurut Kepala Sekolah SMPN 3 Jekulo, Wiwik Puwati kejadian ini diduga karena guru-guru tersebut masih berkumpul di sekolah bersama guru lainnya meski pembelajaran proses daring.

Media terus memberitakan ancaman virus pada sektor ini hingga memuncak pada tanggal 4 Desember 2020. Berita terkait rombongan guru dan karyawan TU Man 22 Palmerah menjadi bahan utama pemberitaan media. Hal ini disebabkan hasil swab test yang menunjukkan 33 orang dalam rombongan tersebut positif Covid-19.

Klaster guru tersebut terungkap setelah adanya laporan swab test pada tanggal 28 November 2020 yang menunjukkan dua guru dari rombongan tersebut positif terpapar Covid-19. Setelah adanya laporan tersebut, tracing dan tes masal dilakukan. Hasilnya, 33 orang dalam rombongan tersebut positif Covid-19 dan 7 lainnya negatif.

Tak hanya itu, guru di beberapa daerah juga diberitakan telah terpapar virus ini. Kelonggaran dan tingginya mobilitas menjadi faktor besarnya peluang terpapar Covid-19. Seperti halnya yang diberitakan media Kompas, seorang guru di Madiun dinyatakan positif Covid-19 setelah pergi keluar kota kota untuk menghadiri acara pernikahan. Tak berdampak pada dirinya sendiri, seorang siswa yang sempat berkunjung ke rumah guru tersebut juga dikonfirmasi telah positif terpapar virus ini.

SISWA POSITIF COVID-19

Tidak hanya menyasar pada tenaga pendidiknya, virus ini juga menyerang segala lapisan, salah satunya adalah siswa. Uji coba Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang dilakukan di beberapa daerah di Indonesia ternyata masih luput dari bahaya Covid-19. Salah satu diantaranya, seperti yang diberitakan Gatra, 179 siswa SMK di Jawa Tengah positif Covid-19 setelah mengikuti uji coba PTM. Meski simulasi dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat, ancaman virus melalui OTG belum dapat dikendalikan. Ketua DPRD Jawa Tengah Bambang Kusriyanto meminta untuk proses PTM ditunda sampai dengan tersedianya vaksin untuk guru dan siswa.

Dengan adanya penambahan kasus pada sektor ini, beberapa otoritas daerah setempat menghentikan uji coba PTM untuk meminimalisir penularan. Salah satunya adalah kebijakan yang diambil oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara yang memberhentikan uji coba PTM di salah satu sekolah swasta setelah adanya laporan belasan siswa yang terkonfirmasi positif Covid-19

Pemberitaan terkait klaster sekolah ini didominasi oleh sentiment negatif karena adanya berita penambahan kasus Covid-19 yang menyerang guru dan siswa di beberapa daerah di Indonesia. 22o dari 339 artikel berlabel negatif. Portal media berita terus menuliskan artikel terkait topik ini guna menginformasikan bahaya Covid-19 yang masih mengintai. Kompas menjadi Top Portal teratas dalam memberitakan kasus Covid-19 pada sektor ini.

Kasus Klaster Sekolah di Mata Warganet

Dalam periode pemantauan yang sama, Netray berhasil menghimpun 1.324 twit dengan dominasi sentiment negatif sebanyak 657 twit. Dengan kata kunci belajar tatap muka, guru && positif, dan siswa && positif topik tersebut memuncak pada tanggal 6 Desember 2020.

Puncak cuitan terjadi karena banyaknya impresi warganet terhadap twit yang dibuat oleh akun @ismailfahmi. Dalam twitnya, Ismail Fahmi membagikan tautan yang berisikan artikel tentang dampak uji coba sekolah tatap muka yang menjadikan 179 siswa terinfeksi Covid-19. Twit yang sekadar membagikan informasi tersebut ternyata mencuri perhatian warganet hingga mendapat 238 retweet dan 478 like.

Terpaparnya siswa akibat uji coba PTM juga menggelitik warganet untuk turut membagikan tanggapannya. Salah kritik terkait kasus ini diungkapkan oleh akun @Rifqizuhdi_ yang mengatakan uji coba di tengah pandemi ini sepatutnya cukup dilakukan dengan perwakilan 10 siswa dan 1 guru di setiap kelasnya. Dan cuitan lainnya yang juga mengatakan hal tersebut adalah risiko dari uji coba PTM.

Selain itu, warganet juga memberi tanggapan terkait adanya penambahan kasus yang dialami tenaga pendidik. Seperti yang ditwitkan @SmitaDnkrmn, ia memberikan tanggapan dengan emotikon terkejut terkait kasus guru Man 22 Palmerah yang terinfeksi setelah study tour.

Disisi lain, dengan adanya kejadian yang menimpa siswa dan guru tersebut, warganet juga meminta kebijakan terkait sekolah luring atau tatap muka ini untuk ditinjau kembali mengingat vaksin virus belum didistribusikan oleh pemerintah.

Kasus Covid-19 akan terus menyerang siapapun yang lalai akan protokol kesehatan. Kejadian tingginya mobilitas para tenaga pendidik hingga uji coba yang menyebabkan siswa terinfeksi Covid-19 sepatutnya dapat menjadi pelajaran bagi semua orang untuk tetap menerapkan 3M (Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak). Kebijakan sekolah luring yang diserahkan kepada pemerintah daerah harus mendapat pengawasan ketat agar tidak kecolongan dari ancaman Covid-19 sehingga menimbulkan klaster baru. Sekian pantauan media monitoring Netray, semoga informasi ini dapat menyadarkan kita bahwa protokol kesehatan masih menjadi kunci utama di masa pandemi ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: